Monday, 21 January 2013

Setelah Hujan di Jakarta

Hari Ke-8 

Kepada kalian semua para relawan,
Cinta yang mengajarkan keikhlasan.

Kebanyakan orang acuh dengan keberadaan kalian
dan tak sedikit yang memandang kalian sebelah mata
Mereka baru mengganggap kalian saat bencana menerjang
Disaat kepedulian orang-orang disekitar yang mereka anggap bisa diandalkan
justru seringnya menghilang.
Kalian, superhero yang tidak pernah terlambat datangnya

Ini pekerjaan yang kalian sebut sebagai 'panggilan jiwa'
Disaat orang-orang sekitar mulai hilang kepekaannya
Pada sinar matahari yang menggosongkan kulit
Pada guyuran air hujan tiada henti menghujam tubuh
Kalian tetap berada dibarisan paling depan, tanpa gentar
dan pada peluh yang mengucur deras membasahi tubuh
Menjadi saksi pilu bagaimana kalian bekerja tanpa kenal lelah dan tanpa kenal batas
Bukannya apresiasi, tak sedikit cercaan amarah yang kalian terima dikala banyak yang tak sabar berebut ingin didahulukan.

Salam hormat untuk kalian semua, dari aku.
Kagumku tiada batas untuk kalian, yang layak disebut pahlawan tanpa jasa.

Sunday, 20 January 2013

Cinta Diam-diam

Hari Ke-7 

Kepada kamu,
yang mencintai tanpa mengharap balas.

Sebenarnya kamu tahu, tapi memilih berpura-pura untuk tidak tahu.
Entah apa yang membuatmu menggebu-gebu untuk tetap mempertahankan segala rasamu untuknya, orang yang kamu tahu tidak memiliki rasa yang sama kepadamu. 

Aku salut dengan keberanianmu yang mencintai dengan penuh resiko.

Resiko sakit hati yang pasti akan berjejalan masuk ke hatimu.
Mungkin ini tentang kesedihan, tapi menurutmu ini tentang kepuasan.
Karna menurutmu, mencintainya adalah sebuah kabahagiaan. Jalan pikirmu memang sulit ditebak.

Buatmu, mencintainya sama saja belajar memperjuangkan apa yang kamu sebut cinta. Selama dia mengabaikanmu selama itu pula kamu belajar mencintai.

Asal dia bahagia, itu sudah cukup. Kamu tidak mengharapkannya untuk menerimamu, tapi kamu dengan ikhlas selalu memanjatkan doa agar dia selalu bahagia.
Sesederhana itu kamu mencintai.

Kamu tidak lelah. Memperhatikannya hampir setiap hari.

Sampai-sampai kamu hapal benar warna pakaian apa yang dia sukai dan makanan apa yang dia tidak suka.
Aku sendiri terheran-heran, kekuatan apa yang membuatmu bisa seperti itu.
Bahkan, kamu sangat terbiasa melihat dia bergandengan tangan atau bergelayut manja di bahu kekasihnya.

Cinta kamu tidak akan pernah bisa. Aku tahu kamu sangat paham itu.

Iya, itu kamu, tidak ingin bahagia diatas kesedihan, nalurimu tidak sampai untuk merebut dia dari orang yang dia cintai.
Saat kamu melihatnya mengurai senyum kepadamu, saat itu pula kamu berkata padaku "aku sudah cukup bahagia". 



Dari aku,

teman berbagi ceritamu.
Tuhan bersama orang yang mencintai tanpa syarat sepertimu.

Friday, 18 January 2013

Tentang Hal-hal Kecil yang Sering Kita Lakukan Bersama


Malam itu, dikotamu, disuatu tempat yang sering untuk kita melepaskan rindu.
 

Entah sudah berapa banyak pertemuan-pertemuan yang tak terhitung yang kita buat sejak memutuskan untuk bersama, tapi rasanya aku selalu salah tingkah ketika akan menemuimu. Rasanya selalu sama. Masih sama seperti saat pertemuan pertama dulu, entah, tapi aku sangat menikmatinya.
Siang itu, aku berdandan setengah mati untuk bertemu denganmu. Aku tidak ingin terlihat asal-asalan saat bertemu nanti, walaupun sebenarnya kamu sudah terbiasa melihatku tanpa make-up, atau bahkan muka bangun tidur sekalipun. Iya, karena kebiasaanku tertidur dikasurmu dengan seenaknya. But I think I should prepared those day. 
Banyak kebiasaan burukmu yang justru sering membuat aku rindu. Kamu yang tidak pernah menjawab dengan serius pertanyaan-pertanyaan yang aku lontarkan saat kita hanyut dalam percakapan yang seru. Kamu juga tidak pernah memperlakukanku dengan romantis. Dan kamu selalu sibuk dengan stok film-film di laptopmu, yang kadang membuat aku sedikit kesal karena merasa diabaikan. Tapi, itu kamu. Dan banyak hal-hal kecil yang lebih aku suka. That's make you different!
Waktu aku belum mandi, dengan muka kusut dan rambut yang tidak kalah berantakan dan tiba-tiba kamu mengetuk pintu rumahku. 
Aku bilang "eh, malu lagi berantakan banget, jelek ya".
Dan kamu berkata:
"ga kok, biasa aja, malah aku lebih suka kamu yang begini"
Sifat buruk aku yang selalu tertidur disembarang tempat kalau sudah kelelahan dan membiarkan kamu melakukan kegiatanmu sendiri, dan saat seperti itu, kamu hanya bilang
"kasian banget kecapekan, udah tidur lagi aja sana"
Saat pasangan lain sibuk merayakan tanggal jadiannya tiap bulan, sepertinya kamu tidak pernah ingat, tapi saat coba diingatkan, kamu hanya menjawab:

"apa sih artinya tanggal, cuma tanggal doang. yang penting kita masih bisa bareng"
Saat semua perempuan sibuk untuk kurus, dan aku juga mulai cemas dengan perutku yang semakin membuncit, kamu hanya berkata:
"yauda sih ah, emang aku pikirin. ga masalah kok lagian masih enak dilihat"
Saat kita berbicara tentang mimpi dimasa depan, kamu selalu bekata penuh khayalan:
"nanti anak kita dua aja ya, cowok sama cewek. cowok dulu, biar bisa jagain adeknya" 


Saat aku stres rambut yang susah diatur, kemudian mencatoknya, kamu malah mengacak-acak rambutku  sampai berantakan lagi, dan bilang kalau:
"udah gapapa, aku suka yang apa adanya, gausah dipotong lagi ya" 


Saat aku melakukan kesalahan fatal, sambil menunduk dan dengan suara berat kamu bilang:
"apa aku salah mengajari kamu selama ini? kayaknya aku yang gagal mendidik kamu"

Saat saya membenci seseorang dan menceritakannya kepadamu, kamu hanya berkata:
"jangan terlalu benci dia, karena kalau kamu benci dia, kamu bakal terus penasaran dan malah inget sama dia terus. jangan jadi pendendam"
  
Dan saat aku tiba-tiba terbangun dari tidurku, dan aku menemukanmu disampingku, kamu selalu mengatakan:
"kamu kenapa sayang? gapapa kan?"
Sambil memelukku.