Showing posts with label Free Writing. Show all posts
Showing posts with label Free Writing. Show all posts
Thursday, 16 March 2017
TERUNTUK KAMU
Ditanggal yang sama beberapa tahun yang lalu, kamu adalah seseorang di luar lingkaranku.
Tak tau siapa, tak tau dimana. Bahkan, Solo - Jakarta rasanya tidak memungkinkan skenario bertemu secara kebetulan.
Kamu tak lebih hanyalah seorang asing, tak saling mengenal.
Lalu kamu, juga aku, mulai mengenal cinta.
Kamu mati-matian mempertahankan seorang perempuan berparas manis berkulit kuning langsat.
Akupun demikian, menikmati hari bersama seseorang bermata teduh, seorang yang berjanji setia, tapi nyatanya pergi tanpa menyisakan kabar.
Tetap, kita tak saling mengenal.
Hingga air mata itu turun, hati itu patah.
Kita berdua nyaris merasakan patah hati di waktu yang sama.
menyapu sedih di tempat berbeda.
Hari berlalu,
Hingga hari itu, lagi-lagi, hidup menunjukkan rasa humornya.
Kamu berada di tempat yang sama denganku ketika menghadiri undangan interview perusahaan swasta.
Mungkin kita pernah beberapa kali berdampingan di tempat yang sama ketika menaruh berkas lamaran atau pada kesempatan interview sebelumnya.
Tapi, aku tak sadar kamu ada.
Ya, kita tak pernah bertemu.
Kamu berpindah tempat duduk, menempati bangku kosong yang tak jauh dari tempatku duduk.
Kita sama-sama menunggu giliran interview, tapi tak banyak percakapan yang kita buat.
Tak lebih dari sekedar bertukar nama, dan selesai begitu saja.
Tanpa rasa, tanpa ada yang tersisa.
Setelah pertemuan pertama, semua berjalan tanpa ada kamu.
Tak pernah sedetikpun kamu hadir di kepalaku, meminta dikenang, meminta dicari untuk kemudian ditemukan sebagai tambatan.
*****
Lalu, hari itu tiba juga,
DImana aku memberikan diri menyapamu secara spontan dalam suasana cair melalui pesan singkat.
Saat itu aku ragu, karena pernah beberapa kali aku mengabaikan BlackBerry Messages yang kamu kirimkan.
Tapi di luar ekspektasi aku, kamu membalas pesan singkat yang kukirim.
*****
Sejak hari itu, kamu selalu berada di sini.
Jika lingkar lenganmu terlalu jauh untuk kugapai, keberadaanmu lekat dalam hati.
Kamu tak pernah pergi sejak hari itu, berjanji untuk selalu menemani.
Sejak hari itu, aku menjadi bagian dari hidup kamu, seorang yang kamu perkenalkan sebagai perempuan terdekatmu.
Perempuan yang saat ini dengan tegas kamu sebut sebagai calon istrimu.
Semenjak ada kamu, rasanya cinta yang membuatku patah hati sejadi-jadinya menjadi tak bermakna, tak lebih dari sekedar belajar mencinta.
Kamu adalah seorang yang membuat keasingan menjadi kehangatan.
Orang yang sama sekali asing tapi memberikan kenyamanan seperti sudah mengenal berpuluh tahun, seperti mempunyai rumah dalam bentuk raga.
Hadirnya kamu cukup membuatku blingsatan karena bahagia merasakan indahnya dimiliki.
Kamu membuat hati yang patah berkeping-keping menjadi nyaris utuh kembali.
Berbekas, tapi tak menggangu.
Untuk kamu, aku berjanji untuk mendampingi, untuk tidak terlalu jauh dari gapaian jiwamu. Untuk kamu, aku yang keras kepala ini berani menurunkan ego, berani melambatkan laju hidup dan berani melintasi batas idealismeku sendiri; menanggalkan karir dan memilih menjadi ibu rumah tangga.
Untuk kamu, aku sayang kamu. Lebih dari kata-kata cinta dalam tulisan ini.
Wednesday, 30 March 2016
DIA
Dia yang tak terganggu dengan penampilan saya. Dia hampir jarang berkomentar mengenai pilihan baju yang saya kenakan. Atau warna lipstik yang saya pakai. Dia tidak pernah protes mengenai hobi menulis saya. Ia menganggap puluhan tulisan di blog saya adalah sebagai penyaluran hobi. Bukan untuk mencari perhatian atau sebagai budak internet.
Ia mengerti bahwa hidupnya harus sedikit banyak terkespos karena saya senang menulis tentang dirinya di blog ini. Ia selalu bertanya kapan saya akan menulis lagi. Untuk pertama kalinya saya merasa hebat hanya karena kemampuan saya menulis. Seumur hidup saya menganggap diri saya bodoh karena lemah di akademis ilmu pasti, saya tidak pandai matematika, saya tidak bisa fisika.
Dua puluh tahun lebih saya berada dalam pikiran bahwa saya tidak pintar, hingga ia datang dan menyadarkan bahwa manusia memiliki keperkasaannya masing-masing, dan cara saya merangkai aksara adalah kemampuan yang bisa disandingkan dengan kemampuan dirinya mengerjakan soal matematika. Ia bukan sekedar menjadi pengikut, tapi ia berusaha menikmati apa yang saya senangi. Ia temani saya menulis, ia membaca hasil karya saya.
Dia bisa mengikuti ritme hidup saya yang berubah-ubah. Ada masanya saya senang sekali pergi dari mall ke mall untuk mencari hiburan, lalu seketika saya bosan dan hanya ingin di rumah saja berminggu-minggu. Keberadaannya membuat saya menikmati setiap waktu,
Dia yang menerima kurang saya, dia yang tak pernah lelah akan mau saya, dia yang selalu ada ketika saya jatuh dan hampir terluka.
Dia yang berusaha menyeimbangkan langkah saya, walau terkadang mundur beberapa langkah untuk berlari lebih jauh. Dia yang menanggapi setiap ide saya, dia yang mendengarkan setiap pengetahuan yang baru saya tahu.
Dia yang merentangkan kembali sayap saya yang telah patah karena sempat tak percaya cinta, dia yang membangunkan saya bahwa hidup itu jauh lebih indah dari mimpi.
Saturday, 16 January 2016
TERIMA KASIH, 2015!
Memasuki tahun 2016, ada banyak harapan serta resolusi yang saya inginkan. Bukan tentang hal besar-besar memang, saya justru ingin lebih fokus membenahi yang kecil-kecil. Seperti membiasakan tidur malam tepat waktu, lebih rutin berolahraga dan mengurangi konsumsi makanan cepat saji, juga mengatur pengeluaran secara lebih bijak lagi.
Seorang teman pernah bilang, kalau satu hari kita sedang sedih dan hari begitu berat, 24 jam akan terasa lama sekali. Tapi kalau menoleh ke belakang sebentar dan melihat ratusan hari yang sudah terlewati dalam hitungan tahun, maka ternyata banyak sekali hal besar yang pernah kita lewati. Yang bahkan kita sendiri bisa tercengang bisa melaluinya.
2015 adalah tahun yang cukup membuat saya belajar. Belajar ikhlas lebih tepatnya. Rela tidur 3 jam di malam hari demi menyelesaikan revisi skripsi. Rela jarang pulang ke rumah demi melakukan penelitian. Rela mendatangi satu kota ke kota lain demi mencari lowongan pekerjaan. Dan, rela hidup sendiri di Ibukota yang jauh dari keluarga dan kerabat lainnya.
Tapi, Tuhan memang selalu Maha Baik. Di tengah semua kerumitan di 2015 yang saya lalui, Ia memberikan banyak nikmat..
- Nikmat sehat; Alhamdulillah nggak sampai jatuh sakit walau banyak yang dikerjakan sampai menggerus waktu istirahat.
- Keluarga yang selalu mendukung walau dalam susah-susahnya.
- Rezeki yang tidak pernah putus; nggak cuma materi, tapi orang-orang baik yang selalu Tuhan letakkan di sekeliling saya.
- Memiliki banyak teman dan relasi baru; dari kenalan-kenalan sewaktu mengikuti seleksi di suatu perusahaan, yang sampai hari ini masih saling komunikasi dan berhubungan baik.
- Mendapatkan pekerjaan baru; walau belum sesuai dengan keinginan tapi harus tetap disyukuri. Toh, di luar sana masih banyak yang berharap untuk segera diterima kerja. :)
- Mengatur waktu lebih baik supaya istirahat cukup.
- Menulis lebih banyak.
- Membaca lebih banyak.
- Menyisihkan uang untuk ditabung setiap bulan.
- Memanjakan diri dengan membeli barang-barang yang masuk dalam "list to buy".
- Kurang-kurangi mengeluh.
- Dan, yang terakhir, semoga dimudahkan juga; memiliki pekerjaan baru yang sesuai passion dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. :)
Ternyata saya mampu kamu dengan mulus dan tetap baik-baik saja, walau sempat babak belur di tengah perjalanan tapi akhirnya saya pulih dan siap melompat lebih tinggi lagi. Kerumitan di tahun 2015 akhirnya bisa saya nikmati dengan senyum ikhlas.
So, hallo 2016...
Rasanya saya sudah siap meyambut 2016 dengan segala apapun di dalamnya, mulai dari drama-drama dari pihak manapun sampai kejutan yang paling membahagiakan sekalipun. :)
Friday, 25 December 2015
DUA PULUH EMPAT
Apa yang bisa diceritakan oleh satuan waktu? Sebuah transformasi, dari seorang yang sangat kita kenal menjadi yang begitu asing.. dan, seorang asing yang tiba-tiba menjadi bagian hidup..
Beberapa bulan lalu, ketika saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan jalan seorang laki-laki yang saya kenal belum terlalu lama. Tanpa ekspektasi berlebih. Hanya sekedar mengisi Hari Minggu yang sama saja dengan minggu-minggu sebelumnya -jalan dengan siapapun yang mengajak.
Ketika itu, hidup sedang stagnan-stagnannya. Ditinggal pergi cinta dan berusaha untuk menyukai seseorang tapi tak bisa. Dengan celana jeans skinny berwarna biru muda, cardigan, dan hijab berwarna senada kami memutuskan menghabiskan malam itu. Entah apa yang menarik perhatian dari seorang laki-laki yang hanya mengenakan sweater hitam, jeans dan sepatu seadanya. Tapi semakin saya berbicara banyak dengan dirinya, semakin saya ingin mengenal orang ini lebih dalam.
Mungkin pintar, pun sikap dewasa yang ia tunjukkan (dia memperlakukan saya seperti seorang kakak yang berusaha melindungi adiknya). Apapun, kami memutuskan untuk menutup malam itu dengan segelas teh hangat. Pada sebuah tempat bermeja bulat, kami duduk saling berhadapan. Lucu, 2 gelas minuman bisa menjadi sebuah penentu awal cerita. Sebuah keputusan dan sebuah pembuka bagi jalan berikutnya..
Masih tak terbayang jika hari itu, saya menerima ajakan yang lain.. atau menolak ajakan seorang yang tak begitu saya kenal itu, mungkin ceritanya bukan seperti ini.
Selamat 3 bulan,
Abang!
Thursday, 20 August 2015
LALU SETELAH INI JADI APA?
Hallo, semuanya!
Rasanya saya udah lamaaaa banget nggak sign-in ke blog, jadi seperti biasa bingung kan mau memulai dari mana. Banyak moment yang semestinya bisa tertuliskan, tapi ya... kalau rasa males melanda saya mah bisa apa hehehe.
Oh ya, saya masih punya hutang nulis pada diri saya sendiri tentang apa aja keinginan saya pasca lulus kuliah. Bisa dilihat di sini untuk tulisan tentang wisuda saya. Okay, sebetulnya sulit juga sih nulisnya, ya karena sampai hari ini saya juga belum mendapatkan pekerjaan alias masih santai-santai aja di rumah. Jangan ditanya sedih apa nggak ya, jawabannya udah pasti sedih. Mengetahui beberapa teman sudah menemukan pekerjaan yang mereka mau, sedangkan saya? Masih belum juga. :)
Ketika udah lulus kuliah, apalagi yang mau dikejar? Lanjut sekolah? Kerja? Atau nikah? Kalau nurutin cita-cita, jelas saya pilih nomor 1. Tapi untuk mewujudkan cita-cita, pasti ada kan sesuatu yang mesti diperjuangkan terlebih dahulu? Nah, pilihan yang paling bijak untuk saya sekarang adalah; get a job! Ya sesimpel, lanjut sekolah lagi kan butuh biaya, dan biayanya juga nggak sedikit. Kecuali dapat tawaran beasiswa yah, pasti prioritas saya akan balik ke nomor 1 lagi.
Perasaan di saat-saat nganggur seperti ini memang lagi sensitif-sensitifnya menurut saya. Bahkan lebih sensitif daripada ditanya "kapan lulus?" sewaktu masih kuliah. That's true. Ada perasaan sedih, kecewa, nggak enak sama orang tua, semuanya perasaan negatif campur aduk jadi satu. Yang mana akhirnya saya jadi kesel dan nggak jarang nangis sendiri. :)
Gimanapun, saya dan beberapa orang-orang di luar sana pasti maunya langsung dapat kerja nggak lama setelah lulus. Namun sayangnya, rencana Tuhan terkadang memang tak sejalan dengan rencana kita. Saya memang agak strict sih orangnya kalau soal kerjaan. Bukan pilih-pilih, tapi lebih ke.. pengen bekerja di tempat yang ilmu dan passion saya bisa berkembang disitu.
Kebayang kan kalau ambil random chances, lalu baru ngerasa "salah jalur" saat ditengah-tengah kontrak. Mau resign nggak mungkin juga karna tertahan kontrak, nggak resign juga jadi nggak nyaman saat kerja. Duh, aku sih nggak mau kayak gitu. Jatohnya malah nggak totalitas dalam bekerja. Dan kalau resign semau saya, itu menandakan kalau saya nggak professional juga.
Tapi saya nggak pernah menyalahkan atau marah pada Tuhan karena keadaan ini. Saya selalu yakin kalau Tuhan sedang menggenggam doa-doa dan harapan saya, yang kemudian akan Ia realisasikan satu persatu, di waktu yang dirasa paling tepat. Saya justru makin sering introspeksi pada diri saya sendiri. Kenapa selama ini selalu gagal dalam setiap test.
Sebisa mungkin selalu saya coba agar mindset saya berpikiran positif, bukan menyalahkan keadaan. Karena saya yakin, ketika pikiran kita selalu positif, hal-hal positif juga akan datang kepada kita. Yang jelas jangan biarkan keadaan yang nggak enak jadi pengurang syukur, tapi jadi penambah syukur. Kita nggak pernah tau kan kapan tangan Tuhan akan "bekerja", dimana keajaiban itu bisa saja tiba-tiba datang.
And last but not least..
Untuk yang belum kerja seperti saya, pintar-pintar atur pikiran aja supaya selalu positif. Jangan lelah untuk belajar, berusaha lebih keras, dan tentunya berdoa semaksimal yang kalian bisa. Ketika semuanya sudah diupayakan, let's Allah show us the way. Biarkan Tuhan bekerja sesuai dengan rencana-Nya sendiri.
Enjoy every single moment! Mungkin kalian nggak akan ngerasain sesantai ini di rumah atau bisa travelling kemanapun yang kalian mau ketika sudah mendapatkan kesibukan, nanti. Isi waktu luang kalian dengan hal-hal yang kalian sukai, puas-puasin selagi waktu kalian masih banyak. :)
Memang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Supaya kelak, kita tidak menyia-nyiakannya begitu saja ketika semuanya sudah kita genggam.
Semangat berjuang, para jobseeker!
PS:
Sedikit cerita, kalau saya masih belum kerja sampai saat ini bukan berarti saya belum diterima kerja di mana-mana. Sebelumnya, sudah ada 2 tempat yang menerima saya bekerja. Kenapa nggak saya ambil? Simpel, karena passion saya nggak di situ. Saya hanya "kebawa arus" daftar sana-sini biar cepet dapat kerjaan aja hehehe. Jangan ragu berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kalian inginkan, yah! :)
Sunday, 19 April 2015
APA YANG BISA DILAKUKAN WAKTU?
Jadi, apa?
Apa yang bisa dilakukan oleh waktu?
---
April 2015. Di sebuah tempat makan di pusat kota. Setelah berbulan-bulan tak jumpa. Sahabat saya, sebut saya Ayla, mahasiswi, berpacaran selama sekian tahun. Sambil meneguk segelas air mineral di genggamannya, ia mulai bercerita tentang rumitnya kisah kasih yang sedang ia jalani.
"...karena gue males kayak gitu mulu. Perasaan tahun ke tahun makin nggak jelas mau dibawa kemana hubungannya".
Dari 45 menit berlalu sejak Ayla mulai berbicara pada saya tentang masalahnya, saya hanya tak henti menghela nafas. Sambil sesekali meneguk segelas lemon tea yang saya pesan.
--
Saya sering tak habis pikir bagaimana bisa seorang lelaki dengan begitu teganya menyakiti perasaan wanita yang katanya ia sayang. Parahnya lagi, dilakukannya tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali.
Katanya sayang? Kok disakitin? Kok dibikin nangis terus?
Bukan, bukan saya mau menyalahkan lelaki sepenuhnya atas suatu masalah yang terjadi. Paling tidak, wanita juga ikut menyumbang sebab atas masalah tersebut. Tetapi pointnya adalah kadar pemaklumannya yang kurang.
Sebagai manusia dewasa, kita nggak akan mungkin terlepas dari berbagai masalah kehidupan. Tak terkecuali dalam percintaan. Masalah itu akan terus dan terus datang silih berganti. Menguji kita akan seberapa tangguh kita dalam memperjuangkan hubungan yang dari awal sudah diniatkan untuk dimulai.
Pemakluman itu sangat penting menurutku. Tanpa adanya pemakluman, sebuah komitmen nggak akan bisa berlanjut lama. Memaklumi bahwa pasangan adalah orang yang 180 derajat berbeda dengan kita; berbeda karakternya, pemikirannya, dan berbeda kebiasaannya.
Beberapa hubungan memang harus "dipaksa" berakhir bukan karena sudah tak cinta, tapi karena keadaan yang memaksa mereka memutuskan demikian. Iya, bisa dibilang, kadar pemakluman yang kurang dalam menghadapi masalah bersama menjadi salah satu pemicu mengapa suatu perselisihan tak kunjung menemukan titik temunya.
---
Mendengarkan cerita sahabat saya tadi lantas membuat saya semakin yakin bahwa; kualitas hubungan memang tidak bisa diukur dari seberapa lama hubungan itu terjalin. Ya, beberapa orang memang berhasil mempertahankan hubungan yang mereka jalin sekian tahun dan mengkakhirinya di pelaminan. Sisanya? Gagal dan memilih mengakhirinya.
Hmm, waktu yang lama bersama tak jarang memang menimbulkan perasaan bosan diantara keduanya. Tapi, kalau hanya alasannya bosan lalu seenaknya juga mengabaikan pasangannya, dewasa nggak tuh?
Sebegitu hebatnya waktu, sehebat itulah Tuhan membolak-balikan perasaan manusia. Hari itu kami bertemu untuk merayakan anniversary-nya yang ke 5, 6 bulan kemudian kami kembali bertemu untuk mengusap air matanya yang jatuh karena kandasnya cerita yang pernah ia bangun.
Thursday, 2 April 2015
Akhirnya Pakai Toga!
Sebetulnya ini latepost banget, tapi nggak apa-apa deh ya tetap di posting, nantinya tulisan ini yang akan menjadi remember saya jika suatu hari ingatan saya sudah mulai memudar. Jadi begini...
Alhamdulillah,
sekarang saya sudah resmi menjadi seorang sarjana. Tepat 7 Maret 2015 lalu, saya diwisuda di Kampus kebanggaan saya.
Cielaah, udah sah pakai title S.I.Kom di belakang nama hehehe.
Benar kata orang, euforia wisuda memang semeriah itu. Apalagi wisuda Strata-1 yang notabene-nya adalah wisuda tersakral bagi seorang mahasiswa, termasuk saya. Karena dengan itu, satu chapter dalam hidup telah berhasil dilewati. Yap, lulus dan menjadi seorang sarjana.
Dengan itu juga, berarti saya akan melewati babak baru berikutnya; mencari kerja. Iya, berkarir adalah satu diantara beberapa pilihan yang akhirnya saya letakkan di urutan nomor satu setelah menjadi sarjana.
Beberapa orang bilang ke saya kalau, "ah, perempuan mah tinggal nunggu dilamar aja, nggak perlu kerja terlalu berat". Kadang agak gimana gitu ya sama yang bilang seperti itu, tapi saya sih biasanya lebih milih senyumin aja, mau ngebahas soal begituan mah jadi panjang ujungnya, bener nggak? Ada yang sependapat? :D
Untuk pertanyaan, setelah wisuda mau apa kayaknya dijawab di postingan selanjutnya aja kali ya...
Yang jelas saya bahagia telah menyelesaikan studi saya. Ini semua untuk Ayah dan Ibu yang dengan sabar dan ikhlas memberikan curahan doa, kasih sayang, dukungan, dan materi yang nggak pernah putus. Terimakasih Ayah Ibu. Sehat-sehat terus ya sampai saya bisa buat kalian bangga, sesegera mungkin. Insha Allah. :))
Ayah dan Ibu. :)
Akhirnya pakai toga!
Banyak yang bilang kalau kita mirip, mirip nggak?
Teman seperjuangan
Segini aja foto-fotonya, kebanyakan udah saya upload ke Instagram @araapratiwi. :)
Salam,
Ara.
Wednesday, 1 April 2015
Menjadi Konsisten itu Sulit, tapi Bisa.
"Berhijab kan proses, suka-suka aku lah mau pakai terus atau nggak".
"Mau pakai atau nggak itu kan urusan aku, bukan urusanmu".
Jujur saja, belakangan ini saya makin prihatin kalau membaca atau mendengar langsung ada yang berkata demikian. Memang benar, berhijab itu sebuah proses, proses yang tidak sebentar. Tapi, alangkah baiknya tiap proses menuju kebaikan itu tidak diiringi dengan proses mendekati yang tidak baik lagi juga, kan?
Begini, saya pun masih jauh dari kata sempurna dalam berhijab. Tapi sejak saya memutuskan berhijab, Agustus 2013, saya juga punya prinsip; untuk tidak lepas-pakai lagi. Memang nggak mudah.. apalagi yang tadinya terbiasa memakai pakaian lengan pendek atau bahkan yang tanpa lengan tiap hari, lalu tiba-tiba harus menutup aurat hampir seluruh bagian tubuh.
Berhijab itu sebuah proses panjang dan saya setuju. Kenapa harus berproses? Karena bertransformasi menjadi lebih baik itu perlu waktu, pelan-pelan, namun pasti. Banyak yang bilang kan kalau "berhijab aja dulu, nanti hati dan perilakunya pasti ngikutin", yap, itu juga nggak salah.
Yang saya tidak sependapat adalah, ketika sudah berniat melangkah maju, tapi masih sering menoleh ke belakang.
Sedikit cerita tentang pengalaman saya memakai hijab, di awal-awal saya juga masih sering menggunakan baju ketat, transparan, atau yang berlengan 3/4. Saya tahu betul itu jauh dari kata sempurna. Tapi saya coba pelan-pelan menyamankan diri dengan 'aksesoris baru' yang saya pakai itu. Tetep lanjut walaupun suka kegerahan kalau cuaca sedang panas-panasnya. :)
(FYI aja, buat pemula, nggak perlu sampai tahap mencintai dulu deh, menyamankan diri aja dulu. Itu jauh lebih sulit sih.)
Dan... it's work, kok. Lama kelamaan saya menjadi nyaman dengan hijab yang menempel di kepala saya tiap hari. Udah nggak lagi ngerasa gerah berlebih ketika panas, gatel-gatel, risih dan sebagainya. Malah makin pede aja gitu makainya. Alhamdulillah. :))
Okay, balik lagi soal keprihatinan saya tadi.. Makin kesini makin sering lihat orang -termasuk beberapa teman dan saudara, yang masih suka lepas-pakai hijab seenaknya. Dan yang bikin makin sedih itu, mereka justru meng-upload foto tak berhijabnya di social media. Jadi sebetulnya saya yang kelewat kolot atau mereka yang kelewat nggak menghargai sebuah proses ya?
Mau negur segan, nggak negur kok ya nggak sadar-sadar. Bikin gemes sendiri ya kan. Iya, saya termasuk orang yang kolot soal hijab. Pakai ya pakai, nggak ya nggak! Sesimpel itu sih pilihan menurut saya. Nah, yang nggak sesimpel itu soal konsistensinya. Konsisten buat terus siap menjalani panjangnya sebuah proses, apapun keadannya.
Bagi saya, dan pasti banyak yang setuju juga kan, kalau untuk mendapatkan suatu tujuan, konsisten itu sebenar-benarnya kunci keberhasilan. Masih mau minta hadiah surga sama Allah kalau kitanya aja nggak ada usaha sama sekali? Nggak malu udah dikasih hidup, rejeki, dan rizki yang terus-menerus sama Allah? :)
Untuk terus konsisten memang sulit, saya paham kok. Belum lagi di saat awal-awal berhijab banyak godaan di depan mata; seperti model baju lengan pendek yang makin lucu-lucu, tawaran kerja yang syaratnya harus nggak berhijab, dan masih banyak lagi. Tapi saya cuma yakin aja sih waktu itu, kalau konsisten, Allah juga akan menggantinya dengan hal yang jauh lebih baik. :))
Dan benar saja, sedikit banyak hijab itu kini jadi semacam filter di hidup saya. Mendekatkan saya dengan banyak orang-orang baik, dan menjauhkan saya dari hal-hal yang memang tidak sepantasnya saya dekati. Kalau ada yang nggak sepaham sama tulisan saya, saya minta maaf ya. Saya bukan mau sok paling benar apalagi menggurui, ini cuma perkara pemikiran aja. Diterima apa nggak ya balik lagi ke prinsip masing-masing. :))
Jadi, masih mau mikir berapa kali lagi untuk mulai konsisten? :)
Salam,
Ara.
Friday, 23 January 2015
Featured in Media ala Arifinda D. Putri
Halloooo~
Setelah sekian lama absen dari nulis #1Day1Dream, akhirnya... i'm back!
Harap maklum ya, namanya juga mahasiswi semester akhir ((akhir banget)). Kalau nggak sibuk nyekripsi, ya sibuk ngerevisi. Gitu-gitu aja kegiatannya~
Tapi Alhamdulillah, kabar bahagianya... akhirnya saya sudah sidang! Iya, ini penting banget disampaikan sebelum mengawali tulisan hari ini. Bahagia banget, lega banget satu persatu kewajiban sudah selesai ditunaikan. Ya, meskipun ini belum selesai; masih ada revisi dan jurnal menanti.
Okay, setelah absen lumayan lama, saya nggak akan nulis yang berat-berat dulu. Hmm, pas banget hari ini masih bertema tentang; impian temanmu. Dan, yang saya pilih untuk post kali ini adalah...
Featured in Media ala Arifinda D. Putri.
Arifinda D. Putri, blogger yang baru aja saya kenal melalui project ini. Iya, kenalnya belum lama, tapi anaknya asik banget diajak ngobrol, sharing banyak hal, nyambung bahas ini-itu, dan yang paling penting adalah; kesukaannya mostly pada hal yang sama, jadinya yaaa.. gampang akrab! Fyi, saya orangnya nggak gampang akrab sama orang yang baru kenal. Semoga nggak cuma saya aja ya Des yang mengganggap "akrab" pertemanan baru kita ini hehehe.
Katanya, di salah satu post yang dia tulis di sini, Desi penasaran banget sama yang masuk media, tapi dalam ranah positif, bukan karena tindakan kriminal. Alasannya pengen masuk media itu mungkin alasan paling absurd yang pernah saya tahu; "karena kalau di media, aku bisa kasih lihat ke orang tua atau keluarganya sambil pasang muka sok keren". Hahahah ada-ada aja kamu, Des. :D
Tapi Des, tunggu deh. Kamu tau nggak.. mimpi kamu itu untuk kesekian kalinya sama (lagi) loh sama mimpi saya. Buahahahaha. Kok ya bisa pas banget gitu ya Des.. Saya juga mau banget sesekali nampang di media. Media apa aja, lokal juga boleh. Yang penting nampang aja dulu hehehe.
Kalau dipikir konyol juga sih mimpi kita ini, ya. Tapi nggak apa-apa Des, namanya juga mimpi, wajib setinggi-tingginya! Suatu hari nanti, saya juga berharap kalau nama saya bisa dimuat di salah satu majalah wanita; as a reporter, editor, or anything else. Yang penting menjadi salah satu contributor di dalamnya.
Untuk Desi, semangat ya! Jangan pernah berhenti mengusahakan apa yang kamu impikan. Allah selalu menggenggam mimpi-mimpi yang kita inginkan dengan sungguh-sungguh, dan akan mewujudkannya; nanti. Di waktu yang dirasa paling tepat. Tulisan kamu bagus-bagus kok, Des. See? Nggak harus kuliah di jurusan Jurnalistik dulu kan supaya bisa bikin tulisan yang keren? :)
Salam,
Ara.
Ara.
Thursday, 15 January 2015
Sesederhana Segera Diwisuda~
Balik lagi ke satu mimpi tiap hari... Okay, kalau bahas mimpi, yang langsung muncul dipikiran saya saketika adalah;
1. Sidang skripsi
2. Lulus dengan sedikit revisi
3. Wisuda
Udah. Mimpi saya cuma tiga itu aja. Kalau dilihat mimpinya memang berkesinambungan dari nomor satu, dua, dan tiga, ya. Kenapa? Here the reasons...
Mengapa harus ketiga hal itu?
Alasannya? Saya cuma mau menyelesaikan kewajiban tepat waktu aja. Udah nggak mau molor-molor lagi apalagi sampai memperpanjang waktu studi lagi. Jangan sampai dong ya.. Tapi nggak berlebihan juga ekspektasinya, nanti kalau yang kejadian nggak sesuai dengan yang direncanakan malah bikin kecewanya berkal-kali lipat kan, ya.
Sidang skripsi.
Kalau ditanya takut apa nggak, grogi apa nggak, pasti takut lah.. grogi juga lah.. ngebayangin nanti bakal duduk berhadapan dengan 3 dosen. Bahkan jarak duduk kami nggak sampai 2 meter. Parno banget pokoknya kalau udah kepikiran soal sidang skripsi. Tapi, untuk menuju ke mimpi kedua dan ketiga, mau nggak mau, siap nggak siap, harus ngelewatin satu step itu terlebih dahulu. Semangat!
Bismillah. Tinggal menghitung hari di mana penelitian saya selama 8 bulan ini akan saya pertanggungjawabkan di meja sidang. Semoga nggak ada penguji yang mempersulit, nggak ngasih pertanyaan yang menjebak, dan yang paling penting adalah...
Lulus dengan sedikit revisi.
Siapa coba yang mau dikasih banyak-banyak revisi? Pasti nggak ada yang jawab mau ya kan... apalagi pasca sidang. Pengennya pasti cepet-cepet selesai, udah bosen berkutat sama puluhan lembar kertas yang dicorat-coret dosen. Pffttt~
Lalu, apalagi?
Wisuda.
Wisuda nggak cuma berarti sebuah tanda kelulusan semata, lebih dari itu, moment wisuda itu semacam self reward buat perjuangan dan kerja keras selama berbulan-bulan bergelut dengan skripsi dan revisi. Sesekali diri sendiri juga perlu dibahagiakan, lho ya. Rayakan wisuda semeriah dan seceria yang kamu bisa. Dandan yang paling cantik atau pakai kebaya yang diimpikan misalnya? Apapun itu, biasakan selalu kasih reward buat diri sendiri setelah selesai melakukan sesuatu yang dirasa sulit. :)
Source: Instagram.com
NB:
Ditulis beberapa hari sebelum sidang skripsi. Mohon doanya semoga lancar ya sidangnya. :))
Salam,
Ara.
Wednesday, 14 January 2015
The Queen of Simplicity Beauty, Siti Juwariyah.
Simple is beauty. Tiap kali dengar kalimat itu, yang selalu saya ingat adalah Siti Juwariyah. Beberapa kali, dalam tiap kesempatan wawancara dengan media, Siti selalu mengungkapkan slogan andalannya itu. Yap, sebagai hijabers (re: yang make hijab, ya :p), belum afdol kalau nggak bahas soal Siti Juwariyah. Jadi gini...
SITI JUWARIYAH
Siti Juwariyah? Yang mana sih?
Siti Juwariyah? Yang mana sih?
Kalau kalian suka main Twitter dan Instagram pasti nggak asing lagi sama nama yang satu ini. Seorang fashion blogger yang aktif sebagai anggota Hijabers Community Jakarta tersebut adalah founder dari brand muslimah yang kualitas dan ketenarannya nggak perlu ditanyakan lagi, Kaffah dan Kaffah Apparel.
Aktif sebagai fashion blogger membuat Siti dengan mudah memperkenalkan brand yang ia miliki. Nggak sekedar promosi produk di blog, Siti juga rajin memposting ootd maupun tutorial hijab yang biasa ia pakai dalam kesehariannya. Nggak salah kan kalau makin hari pageviews dan followers Siti makin bertambah dan... yang pastinya berimbas ke penjualan produknya, kan.
Apa kelebihan Siti dibanding fashion blogger lain?
Bisa dibilang style fashion Siti itu style yang paling santai, paling gampang ditiru buat kita-kita yang pengen tampil casual, modis tapi nggak terkesan "maksa". Bukan berarti yang lain ngga lebih bagus ya, ini cuma soal penilaian dan persepsi personal aja. Style-nya ngga pernah ribet-ribet, cara pakai hijabnya juga, sederhana tapi selalu cantik. :)
Siti mengawali usaha line clothing-nya bersama-sama dengan Ibu dan sang Adik. Konsistensi mereka dalam menjaga kualitas produknya layak diacungi jempol. Terbukti dari respon konsumen setia Kaffah yang ingin terus menambah koleksinya lagi, lagi, dan lagi.
Bahkan, Kaffah dijuluki "always sold out in one time". Ya memang sih. Aku juga ngerasain begitu. Tiap kali publish koleksi terbaru, selalu sama, habis terjual dalam waktu yang singkat. Sensasi rebutannya itu lho yang bikin... Ngggg gilaaaa!
Terlepas dari ketenaran brand-nya, Siti adalah sosok yang ramah. Baiiiiik banget. Asli. Di sela-sela kesibukannya ngurus usaha, keluarga, dan Baby Ghazi, Siti masih mau ngeladenin permintaan wawancara saya beberapa waktu lalu, lho. Tengah malam pula. Duh, kak Siti, gimana bisa saya nggak kagum sama kakak coba? :))
Terus, kalau mau lihat Siti di mana?
Bisa di cek di blog personal Siti di sitisstreet.blogspot.com, atau di blog Kaffah saturday-market.blogspot.com. Atau kunjungi akun Twitter dan Instagram Siti di @sitijwryh. Kali aja abis lihat sendiri penilaian kalian jadi sama kayak saya, hehehe.
Photoshoot Siti for Her Brand
Source: saturday-market.blogspot.com
Salah Satu ootd Siti
Source: Instagram Siti @sitijwryh
Salam,
Ara.
Tuesday, 13 January 2015
The Most Fashionable, Chachathaib!
Hallooo!
Ini hari pertama saya nulis untuk project #1Day1Dream. Sebetulnya, challenge ini udah dimulai dari tanggal 1 Januari. Tapi karena saya telat tahunya, jadi ya... nggak apa-apa ikutannya telat juga. Kata orang bijak kan better late than never hehehe.
Ini hari pertama saya nulis untuk project #1Day1Dream. Sebetulnya, challenge ini udah dimulai dari tanggal 1 Januari. Tapi karena saya telat tahunya, jadi ya... nggak apa-apa ikutannya telat juga. Kata orang bijak kan better late than never hehehe.
Ternyata eh ternyata, hari ini tulisannya bertema sosok orang terkenal yang kamu kagumi. Dan, orang pertama yang saya pilih masuk dalam list post sesi ini adalah...
CHACHATHAIB
Kenapa harus Chahathaib?
Annisa Nadzirani atau yang akrab disapa Chacha adalah satu diantara orang-orang yang akhirnya membuat saya pengen memakai hijab. Saya aja nggak pernah nyangka, apalagi punya rencana bakal pakai hijab dalam waktu dekat, nggak ada sama sekali. Biasalah, kebanyakan alasan ini-itu yang sebenernya cuma buat nunda-nunda kewajiban aja, sih.
Dari mana tahu Chachathaib?
Pertama kali tahu Chacha dari Twitter, sekitar tahun 2012. Awalnya saya cuma nge-follow Falla Adinda, terus sering merhatiin kalau mereka berdua sering mention-an gitu. Penasaran, akhirnya aku view profil Chacha. Kesan pertama pas lihat Chacha? Cantik, pake hijab pula. Follow deh. Terus ngikutin tweet-nya tiap hari, ternyata orangnya juga asik.
Setelah masa hitz Twitter bergeser ke Instagram, saya juga ngikutin tuh akun Instagram Chacha. Terus blog-nya juga, semua saya follow. Dalam batin saya, "ini perempuan kok nggak pernah nggak bagus pilihan style fashion-nya ya". Seneng aja gitu kalau lihat perempuan cantik dan berhijab tapi tetap fashionable. Padahal waktu itu saya belum berhijab hehehe.
Dari situ, munculan keinginan untuk berhijab. Iya, hatinya memang tergerak karena ngelihat fashion hijab bagus-bagus. Tapi belum tergerak karena tahu kalau hijab itu sebuah keharusan. Tapi setelah saya tanya banyak orang yang udah berhijab, minta pendapat orang tua, dan Aa... akhirnya bismillah, Agustus 2013 saya memutuskan memakai hijab.
Apa yang sudah Chachathaib lakukan sampai masuk list orang yang aku kagumi?
Well, kalau berhijab itu proses. Begitu juga yang saya lihat pada diri Chacha. Kalau kalian ada yang sama dengan saya, ngikutin Chacha dari beberapa tahun lalu, pasti tahu dimana perubahannya. Bukan, bukan berarti dulu Chacha nggak baik, tapi sekarang coba lihat gimana penampilan Chacha.. makin hari makin syar'i berhijabnya. :)
Selain penampilan, banyak hal positif lain yang udah Chacha lakuin yang menurut saya pantas di appreciate. Pertama, seperti yang kita tahu kalau Chacha adalah fashion editor di Scarf Magazine. Artikel yang ia buat keren-keren semua, bisa dilihat di salah satu tulisan Chacha di blog-nya www.chachathaib.com. Di situ dia menyebutkan beberapa artikel yang telah berhasil ia tuliskan.
Kedua, karena jumlah follower Twitter dan Instagram Chacha yang jumlahnya ribuan, membuatnya dipilih sebagai buzzer sebuah produk Handphone yang mempunyai segmentasi anak muda. Dan karena kemampuannya menulis, Chacha telah melahirkan sebuah novel berjudul Semata Cinta. Chacha juga turut menyumbangkan satu tulisannya dalam novel Jakarta-Bandung-Jogja. Wah!
Ketiga, Chacha itu pribadi yang humble. Mungkin beberapa haters bilang kalau Chacha jutek, tapi menurut saya nggak sama sekali tuh. :) Coba kenali dulu, diajak bicara baik-baik, siapa sih yang nggak akan ngerespons baik juga ya kan... walaupun nggak kenal-kenal banget secara personal, tapi beberapa kali saya pernah berkomunikasi sama Chacha. Baik kok. :)
Keempat, keluarga tempat Chacha tumbuh. Keluarga di mana Chacha menjadi seorang anak, lalu beranjak remaja, menjadi perempuan dewasa, berkeluarga, dan punya anak. Kalau nggak salah Ayah Chacha bekerja di salah satu Stasiun Televisi Swasta. Jadi jelas kan bakat seni Chacha turun dari siapa. Kakak Chacha (Larasati Putri), juga nggak kalah baik kok.
Kelima, keluarga kecil Chacha. Iya, keluarga kecil Chacha, Aa Bisma dan Baby Binar. Dream-family banget nggak sih... suka aja ngelihat gimana cara Aa berusaha bahagiain Chacha. Apalagi waktu Chacha hamil dan melahirkan, kelihatan banget gimana perhatian Aa ke Chacha. :) Semoga selalu bahagia lahir-batin, dunia akhirat ya kak Cha! Aamiin.
Salam,
Ara.
Ara.
Thursday, 8 January 2015
To Be a Fashion Blogger
Resolusi?
Sebenarnya, apa sih arti kata resolusi itu ?
re·so·lu·si /rĂ©solusi/n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yg ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tt suatu hal (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Kalau merujuk arti kata tersebut, resolusi berarti hasil rapat yang biasanya berisi tuntutan. Hmm, tapi tunggu dulu, dari artikel yang pernah saya baca, ternyata, kata resolusi sekarang telah mengalami perluasan makna. Resolusi bisa berarti harapan yang sungguh-sungguh dari pribadi seseorang.
Kalau ditanya soal resolusi, saya hampir Karena memang dasarnya saya nggak pandai bikin resolusi juga, sih. Bukan nggak punya keinginan yang mau diraih, tapi lebih ke... nggak mau banyak berekspektasi dan menunggu aja akan ada kejutan apa di 2015 yang baru belasan hari ini.
Nah, pas banget nih, sekarang IHB lagi ngadain challenge Bulan Januari dengan tema; resolusi blog 2015. Kira-kira apa aja ya resolusi untuk blog saya tahun 2015 ini? Okay, mari kita bahas satu-persatu.
Meminimalisir Symptoms Writer's Block
Apa itu Writer's Block? Sebentar, aku kasih beberapa pengertian dulu, mungkin bisa membantu memberikan gambaran tentang Writer's Block.
An inability to write; he had writer's block; the words wouldn't come. (artikata.com)
A usually temporary psychological inability to begin or continue work on a piece of writing. (Urban Dictionary)
A condition, primarily associated with writing, in which an author loses the ability to produce new work. The condition ranges in difficulty from coming up with original ideas to being unable to produce a work for years. (Wikipedia)
Jadi kalau disimpulkan, Writer's Block ini semacam keadaan sedang miskin ide mau nulis
apa (lack of inspiration), atau keadaan yang mana kehilangan gairah untuk menulis. Pengen banget nulis, tapi nggak tau mau nulis apa. Pasti banyak kan yang sering mengalami keadaan seperti itu? Iya, saya juga, bahkan sering. Di tahun 2015 ini, harus banget pinter memotivasi diri supaya konsisten nulis. Minimal one week one post dulu kali ya, kalau one day one post kayaknya masih berat juga hehehe.
Beli domain
Beli domain! Iya, ini mimpi saya yang entah dari jaman kapan direncananain; tapi belum juga terealisasi. Duh, sedih banget kan ya. Udah 2 tahun aktif mainan blog, tapi untuk beli domain aja masih suka dikesampingkan. Di tahun 2015 ini harus terwujud, ya? Iya. Harus tersemat .com dibelakang nama blog saya. :))
Desain Template Baru
Setelah beli domain, keinginan saya selanjutnya yaitu ngedesain template baru. Selama ini masih manfaatin template bawaan dari blogger yang simpel dan standar. Template impian saya juga nggak jauh-jauh dari unsur clean, kok. Cuma ya memang perlu ada yang diperbaiki, kayak ditambahin widget lagi yang lebih bagus dan lebih lengkap. Oh iya, ditambahin header yang paten juga. :)
Nentuin Line Blogging; To Be a Fashion Blogger
Clear dengan persoalan teknis, saya ingin lebih fokus lagi sama content post di blog saya ini. Selama ini kan isi postingan saya masih bersifat personal blogger; yang mayoritas isinya personal thought, nah, sekarang saya mau lebih fokus lagi nentuin arah dari content yang saya posting.
Memang, mimpi saya selalu banyak, tapi selalu kecil-kecil. Salah satunya keinginan saya menjadi fashion blogger. Iya, saya selalu menaruh kagum sama fashion blogger yang selalu konsisten memposting ootd-nya. Saya juga ingin berbagi mengenai apa yang saya tahu tentang fashion, entah berbentuk ootd atau berbagi tips dalam memadu-padankan old collection, mungkin? Apalah itu yang penting masih berhubungan dengan dunia fashion. :)
Menjadi fashion blogger adalah mimpi kecil yang benar-benar ingin aku wujudkan dalam waktu dekat. Walaupun belum pernah posting apapun mengenai fashion dalam blog ini, karena aku lebih sering mempostingnya dalam akun Instagram @araapratiwi, bukan nggak mungkin sebuah hal besar dapat terwujud melalui pijakan-pijakan kecil yang dimulai dari diri sendiri, kan? Insha Allah. :))
NB:
Thursday, 1 January 2015
IHB Instagram Challenge
Assalamualaikum...
Hallooo!
Ada agenda apa di awal tahun?
Berlibur kemana?
Atau hanya diam di rumah dan bingung mau mengejakan apa?
Indonesian Hijab Blogger lagi ngadain #31daysIHBchallenges, nih.
Ikut yok! Challenges-nya dimulai hari ini, ya. :)
Persyaratannya nggak sulit kok, berikut penjelasannya:
1. Berhijab dan mempunyai blog
2. Pastikan kamu sudah follow Instagram @ihblogger
3. Upload foto hasil karya kamu sendiri kecuali nomor 18 dan 19 boleh dr internet. Sertakan sumbernya.
3. Gunakan hashtag perharinya sbb: #day1IHBchallenge dst
#31daysIHBchallenge
#ihblogger
4. Mention atau tag foto kamu ke ig IHB @ihblogger
5.
4 orang yang beruntung fotonya akan masuk grid ihb tiap harinya. Batas
maksimal upload foto hingga pukul 21.00 WIB sebelum pengumuman foto
grid.
Ayooo ikutan! Insha Allah bakal seru, bisa saling menginspirasi dan semakin banyak teman baru. Come on, join with us! :)
Salam,
Ara.
Saturday, 15 November 2014
Hujan Bulan November
Aku pernah mengelukanmu sampai aku lupa atas diriku sendiri,
aku pernah mencintaimu sampai aku lupa untuk mengenal diriku sendiri,
aku pernah memedulikanmu sampai aku menelantarkan hatiku sendiri.
Sebab yang kutahu hanya kamu,
sebab aku tidak punya banyak cara mengenal yang lain dan kamu memenjarakanku,
sebab aku tidak pernah menuntut untuk diperlakukan dengan baik hingga kamu merasa tidak perlu menjaga dan merawatku.
Aku tumbuh tanpa empati tapi aku tetap cinta kamu, dulu.
Aku berlaku hormat sebab kamu pasanganku,
bukan karena aku masih merasa mau.
Sebab waktu tidak memberikanku pilihan lain,
kecuali menunggu akhir yang pernah aku mulai
tanpa berpikir namun penuh dengan cinta yang seharusnya
menjadi penawar sisa-sisa sakit yang yang kamu jadikan senjata untuk membunuhku.
Bahwa kini mencintaimu adalah sia-sia,
karena yang kau ingin hanyalah sempurna.
Bukan aku, dengan segalanya yang biasa saja.
Bahwa demi kamu, aku dengan yakin mengabaikan yang lainnya.
Tapi tetap itu bukan yang sempurna,
masih sekepal bagianku yang kosong yang bahkan tak bisa kau isi.
Bahwa kini aku kehilangan segalanya,
demi kesempurnaan di matamu.
Demi bahagia yang selalu aku coba hidangkan di hadapanmu.
Bahwa yang sempurna hanya kau dan egomu.
Hujan Bulan November ini begitu deras,
tapi jauh lebih deras lagi ego yang mengaliri tiap sudut ruang hatimu,
Aku bertekuk kalah,
memang bukan aku yang kau mau.
aku pernah mencintaimu sampai aku lupa untuk mengenal diriku sendiri,
aku pernah memedulikanmu sampai aku menelantarkan hatiku sendiri.
Sebab yang kutahu hanya kamu,
sebab aku tidak punya banyak cara mengenal yang lain dan kamu memenjarakanku,
sebab aku tidak pernah menuntut untuk diperlakukan dengan baik hingga kamu merasa tidak perlu menjaga dan merawatku.
Aku tumbuh tanpa empati tapi aku tetap cinta kamu, dulu.
Aku berlaku hormat sebab kamu pasanganku,
bukan karena aku masih merasa mau.
Sebab waktu tidak memberikanku pilihan lain,
kecuali menunggu akhir yang pernah aku mulai
tanpa berpikir namun penuh dengan cinta yang seharusnya
menjadi penawar sisa-sisa sakit yang yang kamu jadikan senjata untuk membunuhku.
Bahwa kini mencintaimu adalah sia-sia,
karena yang kau ingin hanyalah sempurna.
Bukan aku, dengan segalanya yang biasa saja.
Bahwa demi kamu, aku dengan yakin mengabaikan yang lainnya.
Tapi tetap itu bukan yang sempurna,
masih sekepal bagianku yang kosong yang bahkan tak bisa kau isi.
Bahwa kini aku kehilangan segalanya,
demi kesempurnaan di matamu.
Demi bahagia yang selalu aku coba hidangkan di hadapanmu.
Bahwa yang sempurna hanya kau dan egomu.
Source: google.com
Hujan Bulan November ini begitu deras,
tapi jauh lebih deras lagi ego yang mengaliri tiap sudut ruang hatimu,
Aku bertekuk kalah,
memang bukan aku yang kau mau.
Subscribe to:
Posts (Atom)










