Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Saturday, 12 September 2015

WELCOME, TWENTY - SOMETHING!


September 9th, I'm turning twenty-something. Alhamdulillah... masih diberi rezeki umur sampai hari ini sama Allah. Nggak ada hal-hal yang spesial memang di hari ulang tahun saya (dan hampir tiap tahun seperti ini, sih), cuma saya nggak pernah juga ngerasa sedih atau iri ngelihat teman, sahabat, saudara, tetangga saya diberi surprise ulang tahun dari orang-orang terdekatnya hehe.

Sejak kecil, saya terbiasa merayakan ulang tahun hanya dengan keluarga aja. Biasanya kami pergi makan sebagai bentuk syukur atas bertambahnya usia. Tapi nggak tau kenapa, itu sudah lebih dari cukup untuk saya. Bahkan saya nggak pernah kepikiran pengen di-surprise-in tengah malem tepat pergantian hari seperti yang orang-orang terima di hari ulang tahunnya.

Saya cuma pengen ngelewatin hari ulang tahun senormal mungkin, lebih kepada mensyukuri apa yang sudah ada dan terjadi dalam hidup saya selama ini. Bagi saya, ucapan selamat dan doa tulus dari Ayah, Ibu, Adik dan sahabat saya itu udah merupakan kebahagiaan lahir-batin, dan yang pasti selalu berhasil bikin saya terharu sampe kadang hampir mewek juga. :") 

Tiga hari lalu, Alhamdulillah... harapan saya, semoga Allah memberi saya umur panjang supaya saya bisa berbakti dan membahagiakan orang tua saya lebih lama, terus istiqomah sesuai ajaran agama saya, ditunjukkan jalan yang di ridhoi oleh Allah, lebih wise, lebih dewasa dalam berpikir, berkata dan bersikap, karir lancar, project-project lancar, rencana-rencana hidup terealisasikan, dan lain-lain yang kayaknya ngga bisa disebutin satu persatu hehehe.

Terimakasih untuk sahabat dan teman-teman saya untuk ucapan dan doa-doa baiknya, ya.
Semoga semua doa-doanya diijabah sama Allah dan semoga Allah balas semuanya, ya. :)


Monday, 24 August 2015

CERITA TENTANG CITA-CITA


Ketika memasuki fase umur dua puluh-an, tak sedikit pandangan orang tentang cita-citanya yang mulai sedikit berubah. Memang, masih ada beberapa orang yang memiliki tekad bulat ingin menggapai apa yang ia cita-citakan, dan sebagian mereka memang berhasil. 

Memiliki cita-cita memang menyenangkan. Membuat kita tau apa yang ingin kita capai dan tau ada yang harus diperjuangkan. Namun tidak sedikit juga yang berbelok arah 180 derajat; ya, beralih bercita-cita yang lebih "sesuai". Semakin beranjak dewasa, idealnya, pola pikir kita juga semakin dewasa. Semakin realistis terhadap keadaan; bahwa semuanya yang kita cita-citakan terkadang nggak bisa berjalan beberapa hal.

Semasa kecil saya bercita-cita ingin menjadi dokter, dokter spesialis anak. Setelah saya masuk SMA, saya mesti ikhlas kalau jalan saya ternyata nggak di situ. Hmm, ya gimana mau jadi dokter kalau sama pelajaran IPA dan Matematika aja saya mabok banget. Dan akhirnya masuk di peminatan IPS. Ya logika aja yaaa pemirsa pembaca, nanti kalau ngotot jadi dokter malah bahayanin pasiennya hehehe.

Lalu, cita-cita saya berubah jauh; yaitu pengen jadi News Anchor/Jurnalis/Reporter. Ya, bekerja di media. Pokoknya dipikiran saya waktu itu, kerja di media itu enak, bisa sering-sering masuk tv, dilihat banyak orang se-Indonesia, jugaaa... bisa sering-sering ketemu artis hehehe.

Tapi kalau diukur dari tingkat kecocokan, ya cocok sih. Kebetulan saya ambil jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah. 



---



Seiring berjalannya waktu, cita-cita terbesar saya bukan itu. Jadi berubah lagi? Nggak kok. Untuk soal pekerjaan dan karir ke depan saya tetap ingin menjadi bagian dari sebuah media. Tapi, cita-cita terbesar saya sekarang adalah...

Saya ingin menjadi seorang Ibu yang baik.

Ya, cita-cita yang beberapa orang menertawakan, dan tak sedikit yang mencibir. Mungkin banyak orang yang akan berekspektasi sama jika mendengar cita-cita yang "hanya" menjadi seorang Ibu.

Kenapa harus mencibir? Buat saya, cita-cita menjadi seorang Ibu yang baik itu lebih susah dari pada membangun karir yang setinggi-tingginya, menduduki jabatan strategis di perusahaan yang semua orang hormat dan tunduk pada kita. Ya, saya serius, pekerjaan yang harus diapresiasi adalah menjadi Ibu yang baik.

Mengapa harus diapresiasi? Karena menjadi Ibu yang baik tidak ada sekolahnya dan untuk menjadi Ibu yang baik tidak melalui ujian tertulis yang membuat kita susah tidur berhari-hari menjelang ujian. Menjadi Ibu yang baik hanya butuh pengakuan. Iya, pengakuan, pengakuan dari keluarga. Dan Ibu yang baik adalah pencapaian tertinggi dari perempuan karena untuk menjadi Ibu yang baik dibutuhkan pengakuan dari keluarga. Dan, itu jauh lebih sulit.

Saya memang belum berkeluarga, tapi saya bisa mengamati, memperlajari, dan menilai bagaimana semestinya menjadi Ibu yang baik. Ketulusan cinta seorang Ibu yang rela bangun lebih awal demi menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya dan rela tidur lebih larut untuk menunggu suami dan anak-anaknya pulang...

Dan, masih banyak lagi yang Ibu lakukan untuk kita, namun kita tak pernah sadar...

Jadi, siapa bilang berani menjadi Ibu yang baik itu tidak sekeren wanita paling menduduki posisi stategis di perusahaan?

Menjadi direktur di perusahaan? Mudah. Tapi apa artinya semua pencapaian duniawi kalau nak merasa terabaikan? Jika tidak ada sapaan selamat pagi penuh cinta untuk anak-anak, jika tidak ada tangan halus mengajari mereka menggambar, jika tidak ada sosok Ibu yang menemani anak perempuannya membeli peralatan make-up pertamanya, sosok untuk anak perempuan menceritakan pacar pertamanya, sosok untuk mereka menangis, sosok untuk mereka cari ketika mendapatkan nilai baik, sosok yang mereka peluk ketika mereka jatuh dan sosok yang mereka banggakan kedepan teman-temannya karena Ibunya tidak pernah marah-marah dalam mendidiknya. Itu peran seorang Ibu.

Menjadi Ibu tidak hanya melahirkan, tapi menemani mereka hingga nafas terakhirnya..

Cita-cita saya masih panjang. Saya masih punya rencana lanjut sekolah, saya masih ingin kursus menjadi MUA, saya masih ingin mempunyai clothing label sendiri, saya masih ingin jadi blogger yang dikenal, saya masih ingin punya buku hasil tulisan saya. Tapi apa impian terbesar saya? Tetap, hanya menjadi Ibu yang baik. Seorang Ibu yang bisa dibanggakan dan selalu dirindukan. :)

Thursday, 20 August 2015

LALU SETELAH INI JADI APA?


Hallo, semuanya!

Rasanya saya udah lamaaaa banget nggak sign-in ke blog, jadi seperti biasa bingung kan mau memulai dari mana. Banyak moment yang semestinya bisa tertuliskan, tapi ya... kalau rasa males melanda saya mah bisa apa hehehe.

Oh ya, saya masih punya hutang nulis pada diri saya sendiri tentang apa aja keinginan saya pasca lulus kuliah. Bisa dilihat di sini untuk tulisan tentang wisuda saya. Okay, sebetulnya sulit juga sih nulisnya, ya karena sampai hari ini saya juga belum mendapatkan pekerjaan alias masih santai-santai aja di rumah. Jangan ditanya sedih apa nggak ya, jawabannya udah pasti sedih. Mengetahui beberapa teman sudah menemukan pekerjaan yang mereka mau, sedangkan saya? Masih belum juga. :)

Ketika udah lulus kuliah, apalagi yang mau dikejar? Lanjut sekolah? Kerja? Atau nikah? Kalau nurutin cita-cita, jelas saya pilih nomor 1. Tapi untuk mewujudkan cita-cita, pasti ada kan sesuatu yang mesti diperjuangkan terlebih dahulu? Nah, pilihan yang paling bijak untuk saya sekarang adalah; get a job! Ya sesimpel, lanjut sekolah lagi kan butuh biaya, dan biayanya juga nggak sedikit. Kecuali dapat tawaran beasiswa yah, pasti prioritas saya akan balik ke nomor 1 lagi. 

Perasaan di saat-saat nganggur seperti ini memang lagi sensitif-sensitifnya menurut saya. Bahkan lebih sensitif daripada ditanya "kapan lulus?" sewaktu masih kuliah. That's true. Ada perasaan sedih, kecewa, nggak enak sama orang tua, semuanya perasaan negatif campur aduk jadi satu. Yang mana akhirnya saya jadi kesel dan nggak jarang nangis sendiri. :)
 
Gimanapun, saya dan beberapa orang-orang di luar sana pasti maunya langsung dapat kerja nggak lama setelah lulus. Namun sayangnya, rencana Tuhan terkadang memang tak sejalan dengan rencana kita. Saya memang agak strict sih orangnya kalau soal kerjaan. Bukan pilih-pilih, tapi lebih ke.. pengen bekerja di tempat yang ilmu dan passion saya bisa berkembang disitu.

Kebayang kan kalau ambil random chances, lalu baru ngerasa "salah jalur" saat ditengah-tengah kontrak. Mau resign nggak mungkin juga karna tertahan kontrak, nggak resign juga jadi nggak nyaman saat kerja. Duh, aku sih nggak mau kayak gitu. Jatohnya malah nggak totalitas dalam bekerja. Dan kalau resign semau saya, itu menandakan kalau saya nggak professional juga.

Tapi saya nggak pernah menyalahkan atau marah pada Tuhan karena keadaan ini. Saya selalu yakin kalau Tuhan sedang menggenggam doa-doa dan harapan saya, yang kemudian akan Ia realisasikan satu persatu, di waktu yang dirasa paling tepat. Saya justru makin sering introspeksi pada diri saya sendiri. Kenapa selama ini selalu gagal dalam setiap test.

Sebisa mungkin selalu saya coba agar mindset saya berpikiran positif, bukan menyalahkan keadaan. Karena saya yakin, ketika pikiran kita selalu positif, hal-hal positif juga akan datang kepada kita. Yang jelas jangan biarkan keadaan yang nggak enak jadi pengurang syukur, tapi jadi penambah syukur. Kita nggak pernah tau kan kapan tangan Tuhan akan "bekerja", dimana keajaiban itu bisa saja tiba-tiba datang.

And last but not least.. 
Untuk yang belum kerja seperti saya, pintar-pintar atur pikiran aja supaya selalu positif. Jangan lelah untuk belajar, berusaha lebih keras, dan tentunya berdoa semaksimal yang kalian bisa. Ketika semuanya sudah diupayakan, let's Allah show us the way. Biarkan Tuhan bekerja sesuai dengan rencana-Nya sendiri.

Enjoy every single moment! Mungkin kalian nggak akan ngerasain sesantai ini di rumah atau bisa travelling kemanapun yang kalian mau ketika sudah mendapatkan kesibukan, nanti. Isi waktu luang kalian dengan hal-hal yang kalian sukai, puas-puasin selagi waktu kalian masih banyak. :)



Memang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Supaya kelak, kita tidak menyia-nyiakannya begitu saja ketika semuanya sudah kita genggam.


Semangat berjuang, para jobseeker



PS: 
Sedikit cerita, kalau saya masih belum kerja sampai saat ini bukan berarti saya belum diterima kerja di mana-mana. Sebelumnya, sudah ada 2 tempat yang menerima saya bekerja. Kenapa nggak saya ambil? Simpel, karena passion saya nggak di situ. Saya hanya "kebawa arus" daftar sana-sini biar cepet dapat kerjaan aja hehehe. Jangan ragu berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kalian inginkan, yah! :)




Sunday, 19 April 2015

APA YANG BISA DILAKUKAN WAKTU?


Jadi, apa?
Apa yang bisa dilakukan oleh waktu? 


---


April 2015. Di sebuah tempat makan di pusat kota. Setelah berbulan-bulan tak jumpa. Sahabat saya, sebut saya Ayla, mahasiswi, berpacaran selama sekian tahun. Sambil meneguk segelas air mineral di genggamannya, ia mulai bercerita tentang rumitnya kisah kasih yang sedang ia jalani.

"...karena gue males kayak gitu mulu. Perasaan tahun ke tahun makin nggak jelas mau dibawa kemana hubungannya".

Dari 45 menit berlalu sejak Ayla mulai berbicara pada saya tentang masalahnya, saya hanya tak henti menghela nafas. Sambil sesekali meneguk segelas lemon tea yang saya pesan.



--



Saya sering tak habis pikir bagaimana bisa seorang lelaki dengan begitu teganya menyakiti perasaan wanita yang katanya ia sayang. Parahnya lagi, dilakukannya tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali.

Katanya sayang? Kok disakitin? Kok dibikin nangis terus?

Bukan, bukan saya mau menyalahkan lelaki sepenuhnya atas suatu masalah yang terjadi. Paling tidak, wanita juga ikut menyumbang sebab atas masalah tersebut. Tetapi pointnya adalah kadar pemaklumannya yang kurang.  

Sebagai manusia dewasa, kita nggak akan mungkin terlepas dari berbagai masalah kehidupan. Tak terkecuali dalam percintaan. Masalah itu akan terus dan terus datang silih berganti. Menguji kita akan seberapa tangguh kita dalam memperjuangkan hubungan yang dari awal sudah diniatkan untuk dimulai.

Pemakluman itu sangat penting menurutku. Tanpa adanya pemakluman, sebuah komitmen nggak akan bisa berlanjut lama. Memaklumi bahwa pasangan adalah orang yang 180 derajat berbeda dengan kita; berbeda karakternya, pemikirannya, dan berbeda kebiasaannya.

Beberapa hubungan memang harus "dipaksa" berakhir bukan karena sudah tak cinta, tapi karena keadaan yang memaksa mereka memutuskan demikian. Iya, bisa dibilang, kadar pemakluman yang kurang dalam menghadapi masalah bersama menjadi salah satu pemicu mengapa suatu perselisihan tak kunjung menemukan titik temunya.



---



Mendengarkan cerita sahabat saya tadi lantas membuat saya semakin yakin bahwa; kualitas hubungan memang tidak bisa diukur dari seberapa lama hubungan itu terjalin. Ya, beberapa orang memang berhasil mempertahankan hubungan yang mereka jalin sekian tahun dan mengkakhirinya di pelaminan. Sisanya? Gagal dan memilih mengakhirinya.

Hmm, waktu yang lama bersama tak jarang memang menimbulkan perasaan bosan diantara keduanya. Tapi, kalau hanya alasannya bosan lalu seenaknya juga mengabaikan pasangannya, dewasa nggak tuh? 

Sebegitu hebatnya waktu, sehebat itulah Tuhan membolak-balikan perasaan manusia. Hari itu kami bertemu untuk merayakan anniversary-nya yang ke 5, 6 bulan kemudian kami kembali bertemu untuk mengusap air matanya yang jatuh karena kandasnya cerita yang pernah ia bangun.


Thursday, 2 April 2015

Akhirnya Pakai Toga!


Sebetulnya ini latepost banget, tapi nggak apa-apa deh ya tetap di posting, nantinya tulisan ini yang akan menjadi remember saya jika suatu hari ingatan saya sudah mulai memudar. Jadi begini...

Alhamdulillah,
sekarang saya sudah resmi menjadi seorang sarjana. Tepat 7 Maret 2015 lalu, saya diwisuda di Kampus kebanggaan saya.
Cielaah, udah sah pakai title S.I.Kom di belakang nama hehehe.

Benar kata orang, euforia wisuda memang semeriah itu. Apalagi wisuda Strata-1 yang notabene-nya adalah wisuda tersakral bagi seorang mahasiswa, termasuk saya. Karena dengan itu, satu chapter dalam hidup telah berhasil dilewati. Yap, lulus dan menjadi seorang sarjana.

Dengan itu juga, berarti saya akan melewati babak baru berikutnya; mencari kerja. Iya, berkarir adalah satu diantara beberapa pilihan yang akhirnya saya letakkan di urutan nomor satu setelah menjadi sarjana.

Beberapa orang bilang ke saya kalau, "ah, perempuan mah tinggal nunggu dilamar aja, nggak perlu kerja terlalu berat". Kadang agak gimana gitu ya sama yang bilang seperti itu, tapi saya sih biasanya lebih milih senyumin aja, mau ngebahas soal begituan mah jadi panjang ujungnya, bener nggak? Ada yang sependapat? :D

Untuk pertanyaan, setelah wisuda mau apa kayaknya dijawab di postingan selanjutnya aja kali ya...
 
Yang jelas saya bahagia telah menyelesaikan studi saya. Ini semua untuk Ayah dan Ibu yang dengan sabar dan ikhlas memberikan curahan doa, kasih sayang, dukungan, dan materi yang nggak pernah putus. Terimakasih Ayah Ibu. Sehat-sehat terus ya sampai saya bisa buat kalian bangga, sesegera mungkin. Insha Allah. :))




Ayah dan Ibu. :)


 Akhirnya pakai toga!

Banyak yang bilang kalau kita mirip, mirip nggak?


Teman seperjuangan



Segini aja foto-fotonya, kebanyakan udah saya upload ke Instagram @araapratiwi. :) 



Salam,
Ara.

Wednesday, 1 April 2015

Menjadi Konsisten itu Sulit, tapi Bisa.


"Berhijab kan proses, suka-suka aku lah mau pakai terus atau nggak".
"Mau pakai atau nggak itu kan urusan aku, bukan urusanmu".

 
Jujur saja, belakangan ini saya makin prihatin kalau membaca atau mendengar langsung ada yang berkata demikian. Memang benar, berhijab itu sebuah proses, proses yang tidak sebentar. Tapi, alangkah baiknya tiap proses menuju kebaikan itu tidak diiringi dengan proses mendekati yang tidak baik lagi juga, kan?

Begini, saya pun masih jauh dari kata sempurna dalam berhijab. Tapi sejak saya memutuskan berhijab, Agustus 2013, saya juga punya prinsip; untuk tidak lepas-pakai lagi. Memang nggak mudah.. apalagi yang tadinya terbiasa memakai pakaian lengan pendek atau bahkan yang tanpa lengan tiap hari, lalu tiba-tiba harus menutup aurat hampir seluruh bagian tubuh.

Berhijab itu sebuah proses panjang dan saya setuju. Kenapa harus berproses? Karena bertransformasi menjadi lebih baik itu perlu waktu, pelan-pelan, namun pasti. Banyak yang bilang kan kalau "berhijab aja dulu, nanti hati dan perilakunya pasti ngikutin", yap, itu juga nggak salah.

Yang saya tidak sependapat adalah, ketika sudah berniat melangkah maju, tapi masih sering menoleh ke belakang.





Sedikit cerita tentang pengalaman saya memakai hijab, di awal-awal saya juga masih sering menggunakan baju ketat, transparan, atau yang berlengan 3/4. Saya tahu betul itu jauh dari kata sempurna. Tapi saya coba pelan-pelan menyamankan diri dengan 'aksesoris baru' yang saya pakai itu. Tetep lanjut walaupun suka kegerahan kalau cuaca sedang panas-panasnya. :)

(FYI aja, buat pemula, nggak perlu sampai tahap mencintai dulu deh, menyamankan diri aja dulu. Itu jauh lebih sulit sih.)

Dan... it's work, kok. Lama kelamaan saya menjadi nyaman dengan hijab yang menempel di kepala saya tiap hari. Udah nggak lagi ngerasa gerah berlebih ketika panas, gatel-gatel, risih dan sebagainya. Malah makin pede aja gitu makainya. Alhamdulillah. :))

Okay, balik lagi soal keprihatinan saya tadi.. Makin kesini makin sering lihat orang -termasuk beberapa teman dan saudara, yang masih suka lepas-pakai hijab seenaknya. Dan yang bikin makin sedih itu, mereka justru meng-upload foto tak berhijabnya di social media. Jadi sebetulnya saya yang kelewat kolot atau mereka yang kelewat nggak menghargai sebuah proses ya? 

Mau negur segan, nggak negur kok ya nggak sadar-sadar. Bikin gemes sendiri ya kan. Iya, saya termasuk orang yang kolot soal hijab. Pakai ya pakai, nggak ya nggak! Sesimpel itu sih pilihan menurut saya. Nah, yang nggak sesimpel itu soal konsistensinya. Konsisten buat terus siap menjalani panjangnya sebuah proses, apapun keadannya. 

Bagi saya, dan pasti banyak yang setuju juga kan, kalau untuk mendapatkan suatu tujuan, konsisten itu sebenar-benarnya kunci keberhasilan. Masih mau minta hadiah surga sama Allah kalau kitanya aja nggak ada usaha sama sekali? Nggak malu udah dikasih hidup, rejeki, dan rizki yang terus-menerus sama Allah? :)

Untuk terus konsisten memang sulit, saya paham kok. Belum lagi di saat awal-awal berhijab banyak godaan di depan mata; seperti model baju lengan pendek yang makin lucu-lucu, tawaran kerja yang syaratnya harus nggak berhijab, dan masih banyak lagi. Tapi saya cuma yakin aja sih waktu itu, kalau konsisten, Allah juga akan menggantinya dengan hal yang jauh lebih baik. :))

Dan benar saja, sedikit banyak hijab itu kini jadi semacam filter di hidup saya. Mendekatkan saya dengan banyak orang-orang baik, dan menjauhkan saya dari hal-hal yang memang tidak sepantasnya saya dekati. Kalau ada yang nggak sepaham sama tulisan saya, saya minta maaf ya. Saya bukan mau sok paling benar apalagi menggurui, ini cuma perkara pemikiran aja. Diterima apa nggak ya balik lagi ke prinsip masing-masing. :))






Jadi, masih mau mikir berapa kali lagi untuk mulai konsisten? :)


Salam,
Ara.

Thursday, 1 January 2015

Kaleidoskop 2014


Hello, 2015!
HAPPY NEW YEAR!

Sudah merencakan apa untuk tahun 2015? Sudah merayakan tahun baru dimana saja? Kalau saya sendiri dari tahun ke tahun memang tidak pernah merayakan tahun baruan. Jadi biasanya jam 12 malam disaat orang-orang sibuk dengan terompet dan kembang api-nya, saya dan keluarga malah sudah terlelap tidur. :D

Menyambut tahun baru kali ini saya hmm.. belum punya resolusi apapun. Bukan tidak punya keinginan, sih. Tapi lebih ke; nggak mau banyak berespektasi dan lebih memilih menunggu kejutan apa yang akan datang di 2015 yang masih 364 hari lagi.

Di 2014 Allah banyak sekali memberikan saya anugerah; lewat tawa dan air mata yang porsinya masih seimbang. Sisanya? Saya orang yang nggak pandai mengingat banyak hal, jadi saya rasa semuanya banyak yang berjalan di luar rencana tapi Alhamdulillah semuanya membahagiakan. :)

Lalu, apa saja yang sudah dilalui di 2014? 


Here we go...

Januari
1 Januari 2014, untuk pertama kalinya saya bertemu lagi dengan sahabat saya yang super baiknya sewaktu sekolah dibangku SMA. Panggil saja Upi. Karena kesibukan kami masing-masing, dan sempat lost concact lumayan lama juga.. Alhamdulillah kami bisa bertemu kembali. Dan lebih bahagianya lagi, kami merencakan short-trip tapi ala-ala kantong mahasiswa. Ya, kota Jogja pun jadi sasaran kami. Oh ya, akhirnya kami pergi berempat, dengan Mega dan Ana. Ketiganya sahabat-sahabat baik saya. 

Februari-Maret-April
Yang saya ingat dari 3 bulan itu cuma; mulai sibuk nyiapin proposal skripsi. Uniknya (menurut saya), di jurusan saya untuk sekedar mendapatkan 1 dosen pembimbing, setiap mahasiswa harus mengajukan proposal skripsi terlebih dulu. Mungkin hanya di jurusan saya yang sistemnya harus seribet demikian. Balik lagi soal proposal, dari yang bingung mau buat skripsi tentang apa, cari buku referensi kesana-kesini, sampai ngerasa sedih banget karena nggak di acc-acc terus proposalnya, padahal udah pengen konsultasi seperti teman-teman yang lain. Pengen marah-marah rasanya kalau inget hal itu, ngabisin banyak waktu.

Mei-Juni-Juli
Dan akhirnya saya mendapatkan dosen pembimbing untuk skripsi saya. Alhamdulillahnya lagi, dosbing saya adalah orang yang sabaaaarr.. jadi sedikit ngilangin bad-mood saya selama 3 bulan belakangan yang terombang-ambing nggak jelas nasip soal keberlanjutan skripsi saya ini. Di bulan-bulan itu saya sibuk dengan revisi; mulai membenahi skripsi saya yang sudah melewati proses konsultasi berkali-kali dengan dosen pembimbing. Capek? Pasti. Tapi perjalanan masih sangat panjang, jadi harus pinter-pinter menyemangati diri supaya nggak down sendiri.

Agustus
Setelah hampir vakum skripsi-an selama 1 bulan lamanya karena puasa dan libur Hari Raya, bulan Agustus lalu saya jalani dengan mulai memanajemen waktu untuk lebih rajin lagi konsultasi. Walaupun jenuh harus nunggu dosbing yang kadang nggak berangkat tiba-tiba padahal sudah janjian.. tapi, bukankah untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, akan ada yang harus diperjuangan, kan? Nggak terkecuali soal skripsi dan gelar. Pengen nyerah? Belum. Masih mencoba berdamai dengan keadaan.

September
September ceria; kata orang demikian. Tapi agaknya saya juga setuju dengan pernyataan tersebut. Buat saya, September adalah bulan yang penuh makna. Bulan di mana umur saya semakin bertambah di dunia, namun semakin berkurang pula jika ditakar dengan hitungan kematian. Suka parno sendiri kalau bahas soal jatah umur di dunia.

September adalah bulan perefleksian diri; menimbang-nimbang lagi apa yang selama setahun ini sudah benar saya lakukan, dan apa kesalahan setahun ini yang masih sering saya lakukan. Tidak ada perayaan istimewa di hari ulang tahun saya, tiap tahun selalu saya lewati dengan iringan doa dari kedua orang tua dan beberapa sahabat. Karena doa adalah cara mencintai yang paling tulus, dikelilingi orang-orang baik yang dengan ikhlas turut mendoakan hidup saya adalah sebuah anugerah. :)

Oktober-November-Desember
Mungkin, 3 bulan sebagai penutup tahun 2014 itu adalah bulan-bulan terberat bagi saya. Kalau dihiperbola-kan, sepertinya ujian silih berganti datang, rasanya kesabaran saya benar-benar sedang diuji. Pengen ngeluh? Pasti. Tapi saya tahan-tahan. Prinsip saya, jangan memperburuk keadaan dengan memperbanyak keluhan! It's work sih buat saya. Setidaknya saya bisa meminimalisir keluhan-keluhan saya, terutama mengeluh di media sosial.

Balik lagi mengenai ujian hidup, dateline skripsi yang harus segera terselesaikan diakhir tahun ini adalah sebenar-benarnya tantangan besar bagi saya. Belum lagi tiap konsultasi revisi langsung seabrek gitu banyaknya, sekalinya udah niat banget mau konsultasi, dosbing nggak datang ngampus. KESEL BANGET KAN, BIKIN PENGEN MEWEK KEJER KAN.

Okay then. Di bulan-bulan itu saya juga harus mengalami kehilangan. Kehilangan memang bukan perkara mudah. Apapun bentuknya. Nangis, nggak? Nangislah. Enam tahun ada yang saya perjuangkan dalam hidup saya, inget gimana susah-payahnya menjaga dan mempertahankan, gimana kesabaran kami diuji ketika hubungan kami harus dijalani dengan jarak jauh, dan perasaan-perasaan lain yang susah banget buat dijelasin.

Tapi bukankah Allah sudah bekali kita dengan kekuatan? Sehingga, dengan atau tanpa (mereka), kita adalah kita. Kita yang tegar, tangguh, dan sabar. Bukan pilihan yang cukup mudah untuk memutuskan berpisah dengan orang yang sudah menemani saya bertahun-tahun; bahkan sulit. Tapi banyak hal yang saya peroleh dari proses adaptasi setelah kehilangan yang saya alami. Saya semakin mengenali diri saya sendiri. Saya menjadi lebih tahu apa yang sebetulnya saya butuhkan ketimbang yang saya inginkan.

Jangan gantungan sepenuhnya kehabagiaan dan semangat kita kepada orang lain. Karena pada akhirnya, kita adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab penuh atas diri kita sendiri. Iya, yang saya tahu ternyata saya tidak selemah itu. Rasa sedih karena kehilangan nantinya akan berangsur-angsur hilang seiring berjalannya waktu. Akan selalu ada kekuatan untuk membangun daratan yang tersapu bersih oleh badai, bukan? :) 



Source: Feni



Dan, akhirnya saya tutup tahun 2014 ini dengan banyak hal yang pantas untuk disyukuri; with a lots of experience, laugh, love, sadness, and journeys.

WELCOME 2015!

Mari kita torehkan sebaik-baiknya tinta di tahun ini. Terimakasih atas pelajaran-pelajaran berharganya di 2014. :)



Salam,
Ara.

Saturday, 15 November 2014

Curhat Massal


Beberapa waktu terakhir ini saya mulai merasa terganggu ketika melihat recent update di BBM saya. Ya, saya merasa terganggu ketika tiap kali mengecek update, dan lagi-lagi orang yang sama terus-terusan mengganti display picture mereka. Atau yang mengganti personal message tiap menit. Annoying! Antara pengen ngedelcont tapi kenal, tapi kalau nggak didelcont bikin males.

Beberapa teman di kontak BBM saya memang agaknya terlalu ekspresif dalam menggunakan fitur dalam aplikasi yang mereka miliki. Awalnya, saya berpikiran bahwa orang yang tiap saat meng-update status di situs jejaring sosial adalah orang paling annoying, namun setelah melihat fenomena pada recent update BBM ini, ternyata penilaian saya berubah.. merekalah yang lebih menyebalkan.

Saya juga tidak memungkiri, bahwa sesekali saya juga mengganti PM dan DP pada aplikasi BBM saya. Namun sampai saat ini saya masih gagal paham dengan motivasi mereka bertindak demikian. Untuk menunjukkan eksistensi dirinyakah? Cari perhatiankah? Cari simpati orangkah?
Tapi agaknya penempatan eksistensi diri mereka yang kurang tepat menurut saya. Atau mereka kurang memahami apa fungsi dari diciptakannya jejaring sosial. Disitu ada Facebook atau Twitter. Twitter sangat mendukung sekali untuk yang suka update tiap saat, karna refresh feed-nya per second atau satu detik sekali diperbarui. Jadi nggak masalah kalau mau sering-sering update, karna akan tertutup dengan cepat dari tweet-tweet yang lain.

Untuk sekedar update yang memang yaaa.. bisa ditolerir seperti "baterai hampir habis, hub via sms", "tempat ini sangat indah", "Alhamdulillah semua lancar", dan lain-lain yang dalam batas sewajarnya menurut saya itu cukup tidak menggangu. Tapi gimana sama yang tiap update isinya cuma keluhan? Atau beberapa curhatan hati yang semestinya tidak perlu juga dishare di media seperti itu?



--



Sebut saja A. Perempuan muda seusia saya, sudah menikah namun belum bekerja (lagi). Hampir tiap saat ia meng-update PM dan DP BBMnya. Bahkan saat bertengkar dengan suaminya dan segala uneg-unegnya kepada si suami ia tuliskan disitu. Kebanyakan dari update-annya berisi keluhan, tentang rumah tangga dan segala perasaan dalam hatinya.

Lalu si B. Laki-laki sekitar 1 tahun lebih tua dari saya. Sudah menikah. Hampir sama dengan si perempuan tadi, lelaki inipun tidak ada jedanya meng-update kolom PM maupun DPnya. Namun isi dari PM nya lebih tidak penting lagi, seperti hanya tertawa ketika ia menyaksikan sesuatu atau sekedar mengejek/mengomentari temannya.

Ada lagi si C. Perempuan, usianya sama dengan saya dan masih kuliah. Ia selalu mengganti foto DP nya yang juga bisa dibilang sering. Dan yang membuat prihatin adalah, dia memasang foto saat ia tidak mengenakan hijabnya, padahal semua orang tahu bahwa ia mengenakan hijab. Soal update PM, perempuan ini juga cukup ekspresif. Namun tidak terlalu sering seperti si A dan B.




Lalu, kesimpulan apa yang saya dapat?
Saya berpikir bahwa PM di BBM dibuat untuk mendeskripsikan kondisi kita pada saat-saat tertentu. Dalam artian, PM ini diperuntukkan untuk memberitahu bahwa kita sedang dalam rapat, sedang dalam perjalanan, baterai hampir habis, pulsa habis, sedang sakit dan tidak menginginkan diganggu, dan kondisi-kondisi lain yang sifatnya penting untuk orang lain ketahui.

Untuk update yang bisa dibilang nggak penting seperti suasana hati, utamanya keluhan, tidak semestinya dipaparkan dalam personal message BBM seperti itu. Ada banyak media untuk berdoa, bersyukur, maupun berkeluh kesah. Mungkin saya tipe orang yang tidak bisa mentolerir point yang ketiga. Berdoa dan bersyukur biasanya erat kaitannya dengan hal baik dan menggembirakan. Yang pastinya akan enak dibaca oleh semua orang. Lain halnya dengan berkeluh kesah. Keluhan adalah salah satu tanda bahwa kita sedang menghadapi hal yang kita anggap berat atau sulit. Tapi bukankah sebaik-baiknya berkeluh kesah adalah dengan berbagi dengan orang terdekat? Atau dengan mengkomunikasikan masalah itu melalui doa, kepada yang memberikan cobaan...

Terkadang kita lupa, bahkan sering lupa.. bahwa ada banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kita hari ini. Di luar sana ada banyak orang yang berdoa menginginkan supaya ada di posisi kamu sekarang. Dan di luar sana ada banyak orang yang masalahnya jauh lebih berat dan lebih sulit. Hanya saja, mereka tidak mengeluh. Mereka tidak mengumbar kesedihan dan kegundahan hati mereka seperti yang biasanya kita lakukan. Mereka menyimpannya rapat-rapat, lalu meminta kepada Tuhannya agar diberikan kemudahan, agar ditunjukkan sebaik-baiknya jalan keluar.




---



Saya banyak belajar bersyukur dari orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung saya hari ini. Orang-orang yang kebanyakan saya temui secara tidak sengaja. Orang-orang yang menyadarkan saya bahwa peribahasa di atas langit masih ada langit memang benar adanya. Ada banyak yang lebih pedih masalahnya, lebih susah hidupnya, lebih banyak air mata yang tertumpah.. hanya saja mereka tidak pernah mengeluh di depan orang lain.

Karena bagi saya juga, sebaik-baiknya menyebarkan kabar adalah kabar bahagia. Ya, karena sesimpel bahagia itu menular, dan saya percaya, it's work! Maka dari itu, saya lebih suka mengupdate perasaan bahagia dan rasa syukur saya ketimbang perasaan sedih dan gundah gulana yang saya rasakan. Karena sungguh, tiap kali kamu berkeluh kesah di media sosial sebagai yang 'paling tersakiti' atau 'paling menderita', bukan menjadikan orang lain simpati terhadap keadaanmu. Satu-dua kali mungkin iya, tapi ketika itu kamu lakukan berkali-kali, justru membuat orang lain 'risih' membacanya.



Source: Google.com



Jadi, pergunakanlah fitur aplikasi seefisien mungkin. Mengerti waktu, keadaan, dan kegunaan secara tepat sehingga tidak menggangu orang lain di sekitarmu. Be a smart user! :) 



Salam,
Ara.

Monday, 24 February 2014

Bakti itu Harga Mati


"Aku ini sudah dewasa, Bapak Ibu tidak perlu lagi mencampuri urusanku" 

Kita, terkadang lupa bahwa.. 
Seorang anak tidak akan mampu menutup mata dan telinga dari nasehat dan bimbingan orang tua. Sampai kapanpun. Tentang apapun. 

Posisikan orang tua diatas kita, agar saat kita melihat keatas, kita melihat bintang, muncul rasa ingin meraihnya utk mereka. 
Posisikan mereka diarah pandangan kita saat menunduk, agar kita ingat, dalam tunduk pilu, ada mereka disana dengan doa dan kasihnya.Posisikan mereka didepan mata kita, agar kita tahu ada mereka yg slalu membimbing kita.

Posisikan mereka dibelakang kita, agar kita tahu ada mereka yg slalu mendukung kita.

Posisikan mereka disamping kita, agar kita tahu mereka slalu mendampingi kita.

Posisikan mereka dihati kita, agar kita selalu ingat bahwa kita harus selalu berbakti kepada mereka, orang yang doa dan restunya bisa membuka pintu langit dimana mungkin doa dan harapan kita tertahan disana. 



---


"Lalu, bagaimana dengan orangtua yang tidak bersikap baik terhadap anaknya?"


Bagaimana mereka memperlakukan anaknya, itu tanggung jawab mereka terhadap Tuhan. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Tapi sebagai anak, sudah seharusnya tetap bersikap baik. Tidak berbicara seolah mereka tidak berarti lagi untuk kita, contohnya. Serta, yang tidak boleh terlupa; doa. Itulah wujud tanda bakti.

Thursday, 20 February 2014

Ada Baik di Setiap Ketidakbaikan


"Ah, wanita yang baik untuk lelaki yang itu omong kosong. Aku nggak percaya lagi", keluh ibu muda yang sedang mengandung buah cintanya dengan sang suami.

"Rasanya aku tidak pernah tidak menuruti perkataannya. Aku selalu patuh dengan perintahnya. Aku juga tidak pernah melakukan sesuatu di luar kodratku sebagai wanita. Aku tidak mengenal dunia malam, minuman keras, ataupun hal yang tidak sepantasnya. Tapi kenapa aku mendapatkan suami seperti itu? Mendengar pendapatku pun tidak", lanjut wanita tadi panjang lebar tanpa kuminta.

Aku menghela nafas panjang..
Menawarinya teh hangat sembari mengajakya duduk di kursi ruang tengah, berharap dia sedikit merasa tenang. 

"Cobalah kenali dirimu ini dengan dirimu yang dulu, apa ada yang berbeda?", kataku, mencoba membuka pembicaraan.

Dia termenung lama, bola matanya menerawang ke atas; mengorek memori yang mulai usang.

"Aku lebih taat kepada Tuhan, sepertinya..", katanya dengan nada yang masih terlihat ragu.
"Sejak kapan?"
"Sejak aku dipusingkan dengan sikap suamiku"

Kali ini aku yang terdiam. Sekian detik. Tak cukup lama. Lalu, kulanjutkan ucapanku yang terhenti tadi..

 "Tidakkah kau sadar bahwa suamimu adalah suami yang baik dengan segala kekurangannya?"

Dia terlihat mengernyitkan dahi mendengar jawabanku, yang mungkin menurutnya itu jawaban spontan dan sekenanya saja.

"Kekurangannya menjadikanmu lebih baik dari sebelumnya, bukan?
Pernahkah terbayang jika kamu mempunyai suami tidak seperti suamimu yang sekarang? Pernahkah terbayang jika kamu mempunyai suami yang semua sikapnya sesuai dengan keinginanmu? Mungkin saja, mungkin.. kamu tidak akan setaat seperti sekarang ini, karena kamu terlena oleh terpuasnya semua keinginanmu. Nyatanya, kamu bisa menjadi lebih baik karena ketidakbaikan suamimu".

Iya, begitulah skenario kehidupan yang Tuhan ciptakan..
Tuhan Maha membolak-balikan alur hidup, dibuatnya naskah drama yang terkadang tidak tertebak oleh kita, manusia.
Apa yang menjadikan kita baik, tidak selalu berasal dari hal yang baik pula. Pun, tidak semua hal yang mengecewakan, tidak membawa pelajaran. Selalu ada hal baik yang bisa dipetik dalam kehidupan ini, dari seburuk apapun peristiwanya. Selalu ada pelajaran berharga dibalik tidak terpenuhinya keinginan yang berujung kekecewaan itu. 


Maknai setiap hal yang terjadi dalam hidup ini; agar kita mengerti, agar kita memahami, agar kita mensyukuri bahwa segala yang baik dan tidak baik yang Tuhan ciptakan tidak pernah ada yang sia-sia.

Sunday, 16 February 2014

Kita Harus Tau Kapan Berhenti


Pagi tadi, seorang kawan lama datang kepadaku. Mengeluhkan kegundahan yang membuat gurat senyum wajahnya memudar. Tentang perihal sederhana; yang sebenarnya sebagian kita pun sering lupa untuk merenungkannya. 

"Kata orang aku harus terus berusaha, lalu kenapa sekarang aku dimintanya pasrah?" 

Kamu harus mampu menerjemahkan kata usaha dan pasrah itu dengan tepat, kataku. Tidak ada pencapaian tanpa sebuah perjuangan. Itulah kehidupan. Itulah yang menjadikan pinta mereka agar kamu terus berusaha itu benar. Jangan takut gagal. Ketika kamu gagal, cobalah lagi. Dan ketika kamu ingin menyerah, berpikirlah bagaimana kalau ternyata yang kamu inginkan, akan teraih jika kamu mencobanya sekali lagi.

"Lalu, kenapa aku dimintanya pasrah?" 

Jangan lupakan satu hal; Tuhan. Bagianmu, akan tetap menjadi bagianmu. BagianNya pun, akan selalu menjadi bagianNya. Berusaha itu kewajiban kita sebagai manusia. Sebagai makhluk bernyawa yang mencari sebuah jawaban atas apa yang kita usahakan. Tapi... teraihnya keinginanmu bukan karena peranmu sendiri. Izinkan Tuhan berperan. 

Usahakan yang terbaik yang kita bisa, selebihnya, biarkan Tuhan mengerjakan yang menjadi bagianNya. 

Bagaimana kalau ternyata Tuhan akan mengabulkan apa yang kita inginkan saat kita ada dititik pasrah? Bagaimana kalau Tuhan akan mengabulkan apa yang kita inginkan saat kita sudah sangat lelah karena kita berusaha selama ini? 

"Lalu, tunggu dulu. Bagaimana caranya aku tahu, bahwa saat aku memilih pasrah justru saat itulah aku harus mencoba lagi? Bukan kah tadi katamu, aku harus berpikir bagaimana kalau ternyata yang aku inginkan, akan teraih jika aku mencobanya sekali lagi?"

Tuhan adalah penggerak hati. Ketika kamu dan kita semua masih berusaha, itu karena Tuhan memang meminta kita untuk masih dan terus berusaha. Saat kita mulai lelah dan akhirnya pasrah, pun karena Tuhan meminta kita untuk mengizinkanNya melakukan yang menjadi bagianNya. Entah kita sadari atau tidak, begitu adanya. 

Iya. Kita harus tau kapan waktunya untuk berhenti.

Friday, 14 February 2014

Mendengar dengan Bijaksana


Mereka memintaku untuk tidak mendengar apa yang orang katakan. Namun saat ini, mereka memintaku untuk tidak menuruti pikiranku sendiri. Dengarkan orang lain, katanya. 

Hidup akan selalu membuat kita serba salah, kalau kita tidak melihat apa yang dibawanya dengan lebih jauh dan bijaksana. 

Tuhan tidak menciptakan kita seorang diri di dunia ini karena sebuah alasan. Salah satunya adalah karena kita membutuhkan orang lain. Mendengarkan orang lain, itu perlu. Lalu, kenapa lewat orang-orang itu, hidup juga meminta kita untuk mengabaikan mereka?

Lihatlah lebih jauh dan bijaksanalah. Orang yang seperti apa yang harus kita dengarkan dan seperti apa yang harus kita abaikan, kita harus tahu persis akan itu.

Dengarkan mereka! Siapa?
Mereka yang hebat dalam perjuangannya. Mereka yang ceritanya dapat memotivasi. Mereka yang dengan ketulusannya, memberi arahan agar langkah tak kehilangan arah. Mereka yang berpengalaman. Mereka yang mengerti. Mereka yang memahami. 

Kenapa mereka harus kita dengarkan? Karena kita sadari atau tidak, langsung atau tidak langsung, apa yang mereka sampaikan akan membawa energi positif dalam hidup kita. Entah menjadi motivasi, bahan pertimbangan ataupun pedoman.

Jangan dengarkan mereka! Siapa?
Mereka yang hanya menyalahkan langkah kita tanpa mau memberikan solusi. Mereka yang hanya berkomentar tanpa tahu alasan. Mereka yang memaksa kita mengikuti pendapatnya seakan dia lupa bahwa kitalah sang pengambil keputusan. Mereka yang terus mencaci seakan mereka berhak mencampuri. 

Kenapa kita tidak perlu mendengarkan mereka? Karena mereka memang tidak ada hubungannya dengan apa yang kita lakukan. Berhasil tidaknya, teraih atau tidaknya, tidak akan mempengaruhi hidup mereka pula. Apa yang mereka katakan hanyalah bukti bahwa dalam hidup ini, setiap orang memang mempunyai hak untuk berkomentar atas apa yang kita lakukan. 

Tidak semua yang tersampaikan, harus didengarkan.

Wednesday, 8 January 2014

Berkaca


Saya pernah membaca tulisan orang bahwa; menerima adalah setinggi-tingginya mencintai.
Lalu, apa menerima itu termasuk di dalamnya menerima keegoisaan, kemarahan, maupun keangkuhan?
Sampai sekarang saya masih berusaha mencari tau.

Saya juga pernah membaca bahwa ketika pasangan kita marah, sepertinya saat itu yang ia kenal hanya amarah, ambisi untuk menjatuhkan, egoisme untuk menang, dan bagaimana caranya agar tidak disalahkan.

Lalu, ketika ia marah apakah rasa sayangnya juga hilang? Ke mana? Bagaimana bisa?
Tidak adakah rasa takut bahwa pasangannya akan merasa tersakiti, baik oleh kata-kata maupun perilakunya? 

Kemudian saya melihat itu pada diri saya sendiri. Sebagai teman terdekat atau sebut saja pacar, ternyata saya belum berhasil menjadi sosok partner yang baik.

Saya masih banyak kurang, masih banyak salah, dan masih banyak tidak tau.
Saya juga bukan tipe orang penurut. Saya keras kepala, sering membantah, dan banyak mengeluh.
Saya masih sering egois. Saya lebih banyak bicara daripada mendengarkan. Juga terkadang lupa meminta maaf lebih dulu padahal itu kesalahan saya.
Saya sering tidak patuh, namun beberapa kali menuntut lebih.
Dan, saya juga sering marah-marah kalau apa yang dia lakukan tidak sesuai dengan kemauan saya.
Saya belum baik, dan masih jauh dari kata baik. 

Sementara itu, saya teringat seseorang pernah berujar pada saya bahwa; jangan karena diterima apa adanya, lantas bisa memperlakukan seenaknya. Dari yang sudah-sudah, saya dapat menyimpulkan bahwa memang setiap kali kita marah, ada hati orang lain yang lupa untuk kita jaga. Dan ya, sejauh ini dia yang bertahan di sebelah saya adalah tamparan terkeras yang diberikan oleh Tuhan kepada saya.

Dia dengan kesabaran yang luar biasa, pada akhirnya membuat saya ingin memantaskan diri sebagai seorang partner. Katanya, berubah itu datangnya dari dalam diri sendiri, tanpa dipaksa dan tanpa paksaan. Tapi kataku, perlu seseorang yang tepat untuk menjadi alasan terbesar kita berbenah diri, berubah ke tingkatan hidup yang lebih baik.



---



Dan tentu saja,

Mata berbinar hingga tidak bisa menyembunyikan rasa syukur, karena ternyata benar, akan ada seseorang yang datang, yang akan menerima semua kekuranganmu secara baik, dan secara ajaib kamu secara sukarela memperbaiki kekuranganmu untuk membuatnya tetap bertahan.

Dan benar saja,
Hanya seseorang yang tepat yang akan membuatmu berbenah diri atas kemauanmu sendiri, tanpa dipaksa dan paksaan sedikitpun di dalamnya.
Yang akan membuat kamu berbenah ke arah yang lebih baik, tanpa kehilangan siapa diri kamu sesungguhnya. 

Dari sekian banyak yang komplain terus, minimal pasti ada satu orang yang mau nerima apa adanya. Jadi, jangan nggak dihargain, ya. :)

Saturday, 13 July 2013

Selamat Datang, Ramadhan..


Waktu selalu berjalan begitu cepat. Satu hari, satu minggu, satu bulan, dan satu tahun serasa begitu cepat. Dan akhirnya, tiba saat ketika Ramadhan kembali datang. Welcome Ramadhan.. bulan suci yang banyak ditunggu-tunggu semua umat Muslim diberbagai penjuru dunia. Allah Maha baik, menciptakan satu bulan istimewa diantara sebelas bulan lainnya. Satu bulan yang mana kita diberi kesempatan untuk 'mengingat' dan 'kembali' kepada-Nya; yang mungkin selama sebelas bulan ini sering kita lupa karna sibuk dengan urusan duniawi.

Ramadhan. Sudah pasti aroma religi sangat tercium dalam tiga puluh hari dalam bulan ini. Semua manusia berlomba-lomba menuju kebaikan. Menuju satu tingkatan hidup yang lebih baik. Untuk dirinya sendiri, untuk orangtua, untuk orang-orang disekelilingnya, dan yang utama untuk Tuhannya. Tuhan yang mungkin di nomor duakan dalam sebelas bulan belakangan.

Dan apalagi yang lebih menyenangkan selain diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu bulan suci lagi? Berkumpul dengan keluarga. Ya.. kita mungkin terlalu sibuk dengan urusan pribadi dan urusan kita dengan orang lain. Padahal tempat kita untuk pulang yang sebenar-benarnya pulang adalah ditengah-tengah keluarga. Ah, Tuhan memang Maha Keren, memberikan waktu tiga puluh hari untuk lebih dekat dengan keluarga itu hal mewah, priceless!

Dan yang lebih mendamaikan lagi dibulan suci ini adalah silaturahmi dengan sesama manusia lebih tertata dan terjaga kembali. Manusia(wi), kalau semua orang berusaha memperbaiki dirinya dibulan ini, pun menjaga hubungan baik dengan manusia lain salah satunya. Juga ada yang lebih menentramkan lagi ketika melewati bulan suci ini... lantunan ayat-ayat suci berkumandang dari berbagai arah; sahut-sahutan dari speaker masjid satu dan masjid lainnya. 

Subhanallah. Begitu istimewanya bulan Ramadhan, merugi jika melewatkan bulan ini tanpa peningkatan kadar cinta, iman, dan amalan kita untuk Tuhan dan karena Tuhan. Karena sesungguhnya ibadah adalah kebutuhan manusia yang paling tinggi levelnya.

Ramadhan menjadi bulan refleksi bagi para manusia. Bercermin dari kesalahan masa lalu, memperbaiki dan tidak mengulanginya lagi. Menoleh sesekali itu perlu, tapi jangan terlalu lama. Terjebak dalam rasa berdosa di masa lalu tidak akan membuat hidup kita berubah banyak. Let's do it; lakukan sebaik-baiknya yang bisa kita lakukan untuk Tuhan, diri sendiri, keluarga, dan orang-orang sekitar.

Saya pun, hasrat memuncak untuk perbaikan diri. Banyak kebiasaan yang harus ditata ulang supaya tidak semakin merugikan diri sendiri dan banyak pihak. Tidak ada salahnya menjadikan Ramadhan sebagai moment berbenah diri, supaya hidup kita selanjutnya lebih terarah. Selamat nemikmati Ramadhan, kalian semua... nikmatilah selagi bisa! Perjalanan hidup ke depan tiak pernah ada yang tau, tapi mengusahakan hidup itu adalah sebuah keharusan.




Semoga berkah Ramadhan menyertai kita semua aamiiin yarobbal allamin..

Friday, 8 February 2013

Dahaga Intelektual


Sore ini, tiba-tiba terlintas dipikiran saya tentang masa depan. Bukan di masa depan saya bersama siapa, tapi di masa depan saya akan menjadi apa? Iya, mempertimbangkan dan menyadari bahwa di masa yang akan datang persaingan untuk berebut 'kursi kosong' di tempat yang saya idam-idamkan nanti untuk bekerja tidaklah mudah. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang seketika terlintas untuk diri saya sendiri, 'mau jadi apa dan sudah bisa apa?'.

Kemudian saya terdiam, seharusnya saya bersyukur bisa menempuh jenjang pendidikan sampai di bangku kuliah. Banyak di luar sana, orang-orang seumuran dengan saya harus terhenti pendidikannya karena kendala biaya, atau memang semangat mereka sendiri untuk melanjutkan pendidikan dan menimba ilmu tidak ada. Miris memang, di jaman yang dituntut harus serba bisa ini, masih banyak yang harus menelan kenyataan pahit untuk terhenti pendidikannya, ya dengan bermacam-macam alasan tadi.

Pernah mendengar kalimat begini? 
"Sekolah itu bukan ajang penunjukkan eksistensi diri, tapi merasa diri lebih dari yang lain adalah kebutuhan. Dan sekolah adalah salah satu jalan untuk bisa merasa lebih baik walaupun mungkin pada kenyataannya tidak selalu seperti itu,, tapi setidaknya merasa lebih baik dan itu akan membangun rasa percaya diri." -@falla_adinda

Dan saya termasuk salah satu orang yang setuju dengan pertanyaan diatas. Sekolah itu bukan sekedar ajang untuk pamer kecerdasan. Esensi utamanya bukan itu, lebih karena kita haus akan ilmu. Iya, ada kalanya kita harus merasa bahwa kita ini belum cukup punya apa-apa untuk bekal kita di masa depan. Ilmu yang akan membawa kita ke masa depan yang lebih baik. Salah satu jalannya adalah melalui sekolah (tidak harus formal, informal pun sekarang banyak yang memberikan ilmu yang tak kalah bermanfaat). Dan ya, saya merasa masih harus banyak menimba ilmu.

Dari situ saya berpikir kembali, membayangkan sekolah saya yang masih cukup lama untuk saya jalani. Terbesit pertanyaan kembali, 'apa sudah benar ambil jurusan?'
Masih dipojokan kamar, kembali pikiran saya menuju apa saja yang ingin saya raih. Iya, dulu memang cita-cita waktu masih ingusan ingin jadi dokter spesialis anak. Namun sewaktu SMA cita-cita saya berubah total. Saya menyadari tidak mampu untuk masuk ke jurusan IPA. Dengan berat hati, saya harus mengurungkan niatan saya untuk menjadi dokter.

Sekarang, saya menekuni studi saya di bidang Ilmu Komunikasi. Spesialisasi yang saya ambil ada 3 bidang: jurnalistik, video (broadcast), dan public relations. Sebenarnya saya lebih tertarik pada 2 bidang diantaranya, video dan public relations.Tapi saya ingin (lebih) fokus pada 1 bidang yang saya yakin saya benar-benar mampu untuk memperdalam bidang tersebut, public relations. 

Dan ya, saya berkata dengan yakin, saya ingin melanjutkan sekolah lebih tinggi lagi. Ilmu yang saya miliki sekarang masih terbatas, sedangkan ilmu yang wajib kita ketahui itu tiada batas. Bukan sekedar untuk menjadi seorang public relations maupun seorang news caster saja seperti yang saya cita-citakan, tapi saya sadar, bahwa untuk ke depannya, ilmu adalah kebutuhan. Entah nantinya akan melanjutkan berkarir atau tidak (re: menjadi ibu rumah tangga), tapi menjadi hebat itu harus. Tapi bukan untuk merasa paling hebat. Harus dibedakan. Semoga ada jalan untuk merealisasikannya, karna saya yakin, untuk niat baik pasti akan ada jalannya.



"Sekolah adalah dahaga intelektual, bukan tentang penunjukkan kecerdasan" -@junohadinoto

Wednesday, 16 January 2013

Do You Ever Think?


If you think you're unhappy..



If you think your salary is low..


If you think you don't have many friends..


If you think your society is unfair..


If you think you suffer in life, do you suffer as much as he does?


If you complain about your transport system..


And when you feel like giving up..




Enjoy life, how it is, and as it comes.
There are always those worse off than we are.
There are many things in you life that will be catch your eye,
but only a few will catch your heart.
Persue that..



source: http://creamcandi.tumblr.com/post/1697415941