Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Monday, 27 March 2017

TENTANG MENGATUR EKSPEKTASI


Selama ini, kita -para perempuan, seringkali memang "kemakan" sama apa yang kita baca dan apa yang kita lihat, terutama dari novel atau film hollywood yang romantis. Sampai akhirnya kita semacam menciptakan "pattern" sendiri, dan menetapkan standar. Mulai dari pria yang kita kencani, seperti kita diperlakukan, apa yang harus dilakukan agar pasangan senang, bagaimana hubungan itu harus dimulai dan bagaimana hubungan itu seharusnya berakhir, dan sebagainya... dan sebagainya.

Akhirnya, saat semua nggak sesuai dengan apa yang kita harapkan, yang kita atur sedemikian rupa tidak berjalan mulus sesuai seperti apa yang dimau, kekecewaan akan muncul berkali-kali lipat. Ujungnya, bisa menyalahkan orang lain, dan yang paling sering adalah menyalahkan diri sendiri.

Beberapa hal yang saya pelajari di usai saya yang akan masuk di angka 25 di tahun ini adalah...

Boleh berharap, tapi harus siap dengan segala resiko di belakangnya kalau ternyata kenyatannya nggak sesuai.
Mengandalkan orang lain untuk memulai lebih dulu, untuk menyenangkan kita, untuk melakukan apa yang kita mau adalah sebuah kesia-siaan. 
Kita harus tetap memulai dari diri sendiri dulu, karna mengandalkan orang lain adalah salah satu jalan yang menuntun kita pada kekecewaan satu dan lainnya.

Standar yang kita ciptakan boleh tinggi, tapi ketika yang kita dapat jauh di bawah yang kita tetapkan, ya jangan kecewa berlebihan. 
Mengatur ekspektasi supaya nggak sakit sendiri sepertinya sebuah pilihan yang paling bijak untuk diterapkan. Terlebih ekspektasi tentang apa yang semestinya orang lain lakukan untuk kita.

Saturday, 16 January 2016

TERIMA KASIH, 2015!


Memasuki tahun 2016, ada banyak harapan serta resolusi yang saya inginkan. Bukan tentang hal besar-besar memang, saya justru ingin lebih fokus membenahi yang kecil-kecil. Seperti membiasakan tidur malam tepat waktu, lebih rutin berolahraga dan mengurangi konsumsi makanan cepat saji, juga mengatur pengeluaran secara lebih bijak lagi.

Seorang teman pernah bilang, kalau satu hari kita sedang sedih dan hari begitu berat, 24 jam akan terasa lama sekali. Tapi kalau menoleh ke belakang sebentar dan melihat ratusan hari yang sudah terlewati dalam hitungan tahun, maka ternyata banyak sekali hal besar yang pernah kita lewati. Yang bahkan kita sendiri bisa tercengang bisa melaluinya.

2015 adalah tahun yang cukup membuat saya belajar. Belajar ikhlas lebih tepatnya. Rela tidur 3 jam di malam hari demi menyelesaikan revisi skripsi. Rela jarang pulang ke rumah demi melakukan penelitian. Rela mendatangi satu kota ke kota lain demi mencari lowongan pekerjaan. Dan, rela hidup sendiri di Ibukota yang jauh dari keluarga dan kerabat lainnya.

Tapi, Tuhan memang selalu Maha Baik. Di tengah semua kerumitan di 2015 yang saya lalui, Ia memberikan banyak nikmat..
  • Nikmat sehat; Alhamdulillah nggak sampai jatuh sakit walau banyak yang dikerjakan sampai menggerus waktu istirahat.
  • Keluarga yang selalu mendukung walau dalam susah-susahnya.
  • Rezeki yang tidak pernah putus; nggak cuma materi, tapi orang-orang baik yang selalu Tuhan letakkan di sekeliling saya.
  • Memiliki banyak teman dan relasi baru; dari kenalan-kenalan sewaktu mengikuti seleksi di suatu perusahaan, yang sampai hari ini masih saling komunikasi dan berhubungan baik.
  • Mendapatkan pekerjaan baru; walau belum sesuai dengan keinginan tapi harus tetap disyukuri. Toh, di luar sana masih banyak yang berharap untuk segera diterima kerja. :)
2016 mungkin juga akan terasa berat karena saya mulai menjalani "pekerjaan tetap" dan tinggal di kota yang cukup keras bagi saya.  Jadi, resolusi saya mudah saja;
  • Mengatur waktu lebih baik supaya istirahat cukup.
  • Menulis lebih banyak.
  • Membaca lebih banyak.
  • Menyisihkan uang untuk ditabung setiap bulan.
  • Memanjakan diri dengan membeli barang-barang yang masuk dalam "list to buy".
  • Kurang-kurangi mengeluh.
  • Dan, yang terakhir, semoga dimudahkan juga; memiliki pekerjaan baru yang sesuai passion dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. :)


Good bye, 2015...
Ternyata saya mampu kamu dengan mulus dan tetap baik-baik saja, walau sempat babak belur di tengah perjalanan tapi akhirnya saya pulih dan siap melompat lebih tinggi lagi. Kerumitan di tahun 2015 akhirnya bisa saya nikmati dengan senyum ikhlas.


So, hallo 2016...
Rasanya saya sudah siap meyambut 2016 dengan segala apapun di dalamnya, mulai dari drama-drama dari pihak manapun sampai kejutan yang paling membahagiakan sekalipun. :)

Friday, 25 December 2015

DUA PULUH EMPAT


Apa yang bisa diceritakan oleh satuan waktu? Sebuah transformasi, dari seorang yang sangat kita kenal menjadi yang begitu asing.. dan, seorang asing yang tiba-tiba menjadi bagian hidup..

Beberapa bulan lalu, ketika saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan jalan seorang laki-laki yang saya kenal belum terlalu lama. Tanpa ekspektasi berlebih. Hanya sekedar mengisi Hari Minggu yang sama saja dengan minggu-minggu sebelumnya -jalan dengan siapapun yang mengajak.

Ketika itu, hidup sedang stagnan-stagnannya. Ditinggal pergi cinta dan berusaha untuk menyukai seseorang tapi tak bisa. Dengan celana jeans skinny berwarna biru muda, cardigan, dan hijab berwarna senada kami memutuskan menghabiskan malam itu. Entah apa yang menarik perhatian dari seorang laki-laki yang hanya mengenakan sweater hitam, jeans dan sepatu seadanya. Tapi semakin saya berbicara banyak dengan dirinya, semakin saya ingin mengenal orang ini lebih dalam.

Mungkin pintar, pun sikap dewasa yang ia tunjukkan (dia memperlakukan saya seperti seorang kakak yang berusaha melindungi adiknya). Apapun, kami memutuskan untuk menutup malam itu dengan segelas teh hangat. Pada sebuah tempat bermeja bulat, kami duduk saling berhadapan. Lucu, 2 gelas minuman bisa menjadi sebuah penentu awal cerita. Sebuah keputusan dan sebuah pembuka bagi jalan berikutnya..

Masih tak terbayang jika hari itu, saya menerima ajakan yang lain.. atau menolak ajakan seorang yang tak begitu saya kenal itu, mungkin ceritanya bukan seperti ini.

Selamat 3 bulan,
Abang!

Saturday, 12 September 2015

WELCOME, TWENTY - SOMETHING!


September 9th, I'm turning twenty-something. Alhamdulillah... masih diberi rezeki umur sampai hari ini sama Allah. Nggak ada hal-hal yang spesial memang di hari ulang tahun saya (dan hampir tiap tahun seperti ini, sih), cuma saya nggak pernah juga ngerasa sedih atau iri ngelihat teman, sahabat, saudara, tetangga saya diberi surprise ulang tahun dari orang-orang terdekatnya hehe.

Sejak kecil, saya terbiasa merayakan ulang tahun hanya dengan keluarga aja. Biasanya kami pergi makan sebagai bentuk syukur atas bertambahnya usia. Tapi nggak tau kenapa, itu sudah lebih dari cukup untuk saya. Bahkan saya nggak pernah kepikiran pengen di-surprise-in tengah malem tepat pergantian hari seperti yang orang-orang terima di hari ulang tahunnya.

Saya cuma pengen ngelewatin hari ulang tahun senormal mungkin, lebih kepada mensyukuri apa yang sudah ada dan terjadi dalam hidup saya selama ini. Bagi saya, ucapan selamat dan doa tulus dari Ayah, Ibu, Adik dan sahabat saya itu udah merupakan kebahagiaan lahir-batin, dan yang pasti selalu berhasil bikin saya terharu sampe kadang hampir mewek juga. :") 

Tiga hari lalu, Alhamdulillah... harapan saya, semoga Allah memberi saya umur panjang supaya saya bisa berbakti dan membahagiakan orang tua saya lebih lama, terus istiqomah sesuai ajaran agama saya, ditunjukkan jalan yang di ridhoi oleh Allah, lebih wise, lebih dewasa dalam berpikir, berkata dan bersikap, karir lancar, project-project lancar, rencana-rencana hidup terealisasikan, dan lain-lain yang kayaknya ngga bisa disebutin satu persatu hehehe.

Terimakasih untuk sahabat dan teman-teman saya untuk ucapan dan doa-doa baiknya, ya.
Semoga semua doa-doanya diijabah sama Allah dan semoga Allah balas semuanya, ya. :)


Monday, 24 August 2015

CERITA TENTANG CITA-CITA


Ketika memasuki fase umur dua puluh-an, tak sedikit pandangan orang tentang cita-citanya yang mulai sedikit berubah. Memang, masih ada beberapa orang yang memiliki tekad bulat ingin menggapai apa yang ia cita-citakan, dan sebagian mereka memang berhasil. 

Memiliki cita-cita memang menyenangkan. Membuat kita tau apa yang ingin kita capai dan tau ada yang harus diperjuangkan. Namun tidak sedikit juga yang berbelok arah 180 derajat; ya, beralih bercita-cita yang lebih "sesuai". Semakin beranjak dewasa, idealnya, pola pikir kita juga semakin dewasa. Semakin realistis terhadap keadaan; bahwa semuanya yang kita cita-citakan terkadang nggak bisa berjalan beberapa hal.

Semasa kecil saya bercita-cita ingin menjadi dokter, dokter spesialis anak. Setelah saya masuk SMA, saya mesti ikhlas kalau jalan saya ternyata nggak di situ. Hmm, ya gimana mau jadi dokter kalau sama pelajaran IPA dan Matematika aja saya mabok banget. Dan akhirnya masuk di peminatan IPS. Ya logika aja yaaa pemirsa pembaca, nanti kalau ngotot jadi dokter malah bahayanin pasiennya hehehe.

Lalu, cita-cita saya berubah jauh; yaitu pengen jadi News Anchor/Jurnalis/Reporter. Ya, bekerja di media. Pokoknya dipikiran saya waktu itu, kerja di media itu enak, bisa sering-sering masuk tv, dilihat banyak orang se-Indonesia, jugaaa... bisa sering-sering ketemu artis hehehe.

Tapi kalau diukur dari tingkat kecocokan, ya cocok sih. Kebetulan saya ambil jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu Universitas Negeri di Jawa Tengah. 



---



Seiring berjalannya waktu, cita-cita terbesar saya bukan itu. Jadi berubah lagi? Nggak kok. Untuk soal pekerjaan dan karir ke depan saya tetap ingin menjadi bagian dari sebuah media. Tapi, cita-cita terbesar saya sekarang adalah...

Saya ingin menjadi seorang Ibu yang baik.

Ya, cita-cita yang beberapa orang menertawakan, dan tak sedikit yang mencibir. Mungkin banyak orang yang akan berekspektasi sama jika mendengar cita-cita yang "hanya" menjadi seorang Ibu.

Kenapa harus mencibir? Buat saya, cita-cita menjadi seorang Ibu yang baik itu lebih susah dari pada membangun karir yang setinggi-tingginya, menduduki jabatan strategis di perusahaan yang semua orang hormat dan tunduk pada kita. Ya, saya serius, pekerjaan yang harus diapresiasi adalah menjadi Ibu yang baik.

Mengapa harus diapresiasi? Karena menjadi Ibu yang baik tidak ada sekolahnya dan untuk menjadi Ibu yang baik tidak melalui ujian tertulis yang membuat kita susah tidur berhari-hari menjelang ujian. Menjadi Ibu yang baik hanya butuh pengakuan. Iya, pengakuan, pengakuan dari keluarga. Dan Ibu yang baik adalah pencapaian tertinggi dari perempuan karena untuk menjadi Ibu yang baik dibutuhkan pengakuan dari keluarga. Dan, itu jauh lebih sulit.

Saya memang belum berkeluarga, tapi saya bisa mengamati, memperlajari, dan menilai bagaimana semestinya menjadi Ibu yang baik. Ketulusan cinta seorang Ibu yang rela bangun lebih awal demi menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya dan rela tidur lebih larut untuk menunggu suami dan anak-anaknya pulang...

Dan, masih banyak lagi yang Ibu lakukan untuk kita, namun kita tak pernah sadar...

Jadi, siapa bilang berani menjadi Ibu yang baik itu tidak sekeren wanita paling menduduki posisi stategis di perusahaan?

Menjadi direktur di perusahaan? Mudah. Tapi apa artinya semua pencapaian duniawi kalau nak merasa terabaikan? Jika tidak ada sapaan selamat pagi penuh cinta untuk anak-anak, jika tidak ada tangan halus mengajari mereka menggambar, jika tidak ada sosok Ibu yang menemani anak perempuannya membeli peralatan make-up pertamanya, sosok untuk anak perempuan menceritakan pacar pertamanya, sosok untuk mereka menangis, sosok untuk mereka cari ketika mendapatkan nilai baik, sosok yang mereka peluk ketika mereka jatuh dan sosok yang mereka banggakan kedepan teman-temannya karena Ibunya tidak pernah marah-marah dalam mendidiknya. Itu peran seorang Ibu.

Menjadi Ibu tidak hanya melahirkan, tapi menemani mereka hingga nafas terakhirnya..

Cita-cita saya masih panjang. Saya masih punya rencana lanjut sekolah, saya masih ingin kursus menjadi MUA, saya masih ingin mempunyai clothing label sendiri, saya masih ingin jadi blogger yang dikenal, saya masih ingin punya buku hasil tulisan saya. Tapi apa impian terbesar saya? Tetap, hanya menjadi Ibu yang baik. Seorang Ibu yang bisa dibanggakan dan selalu dirindukan. :)

Thursday, 20 August 2015

LALU SETELAH INI JADI APA?


Hallo, semuanya!

Rasanya saya udah lamaaaa banget nggak sign-in ke blog, jadi seperti biasa bingung kan mau memulai dari mana. Banyak moment yang semestinya bisa tertuliskan, tapi ya... kalau rasa males melanda saya mah bisa apa hehehe.

Oh ya, saya masih punya hutang nulis pada diri saya sendiri tentang apa aja keinginan saya pasca lulus kuliah. Bisa dilihat di sini untuk tulisan tentang wisuda saya. Okay, sebetulnya sulit juga sih nulisnya, ya karena sampai hari ini saya juga belum mendapatkan pekerjaan alias masih santai-santai aja di rumah. Jangan ditanya sedih apa nggak ya, jawabannya udah pasti sedih. Mengetahui beberapa teman sudah menemukan pekerjaan yang mereka mau, sedangkan saya? Masih belum juga. :)

Ketika udah lulus kuliah, apalagi yang mau dikejar? Lanjut sekolah? Kerja? Atau nikah? Kalau nurutin cita-cita, jelas saya pilih nomor 1. Tapi untuk mewujudkan cita-cita, pasti ada kan sesuatu yang mesti diperjuangkan terlebih dahulu? Nah, pilihan yang paling bijak untuk saya sekarang adalah; get a job! Ya sesimpel, lanjut sekolah lagi kan butuh biaya, dan biayanya juga nggak sedikit. Kecuali dapat tawaran beasiswa yah, pasti prioritas saya akan balik ke nomor 1 lagi. 

Perasaan di saat-saat nganggur seperti ini memang lagi sensitif-sensitifnya menurut saya. Bahkan lebih sensitif daripada ditanya "kapan lulus?" sewaktu masih kuliah. That's true. Ada perasaan sedih, kecewa, nggak enak sama orang tua, semuanya perasaan negatif campur aduk jadi satu. Yang mana akhirnya saya jadi kesel dan nggak jarang nangis sendiri. :)
 
Gimanapun, saya dan beberapa orang-orang di luar sana pasti maunya langsung dapat kerja nggak lama setelah lulus. Namun sayangnya, rencana Tuhan terkadang memang tak sejalan dengan rencana kita. Saya memang agak strict sih orangnya kalau soal kerjaan. Bukan pilih-pilih, tapi lebih ke.. pengen bekerja di tempat yang ilmu dan passion saya bisa berkembang disitu.

Kebayang kan kalau ambil random chances, lalu baru ngerasa "salah jalur" saat ditengah-tengah kontrak. Mau resign nggak mungkin juga karna tertahan kontrak, nggak resign juga jadi nggak nyaman saat kerja. Duh, aku sih nggak mau kayak gitu. Jatohnya malah nggak totalitas dalam bekerja. Dan kalau resign semau saya, itu menandakan kalau saya nggak professional juga.

Tapi saya nggak pernah menyalahkan atau marah pada Tuhan karena keadaan ini. Saya selalu yakin kalau Tuhan sedang menggenggam doa-doa dan harapan saya, yang kemudian akan Ia realisasikan satu persatu, di waktu yang dirasa paling tepat. Saya justru makin sering introspeksi pada diri saya sendiri. Kenapa selama ini selalu gagal dalam setiap test.

Sebisa mungkin selalu saya coba agar mindset saya berpikiran positif, bukan menyalahkan keadaan. Karena saya yakin, ketika pikiran kita selalu positif, hal-hal positif juga akan datang kepada kita. Yang jelas jangan biarkan keadaan yang nggak enak jadi pengurang syukur, tapi jadi penambah syukur. Kita nggak pernah tau kan kapan tangan Tuhan akan "bekerja", dimana keajaiban itu bisa saja tiba-tiba datang.

And last but not least.. 
Untuk yang belum kerja seperti saya, pintar-pintar atur pikiran aja supaya selalu positif. Jangan lelah untuk belajar, berusaha lebih keras, dan tentunya berdoa semaksimal yang kalian bisa. Ketika semuanya sudah diupayakan, let's Allah show us the way. Biarkan Tuhan bekerja sesuai dengan rencana-Nya sendiri.

Enjoy every single moment! Mungkin kalian nggak akan ngerasain sesantai ini di rumah atau bisa travelling kemanapun yang kalian mau ketika sudah mendapatkan kesibukan, nanti. Isi waktu luang kalian dengan hal-hal yang kalian sukai, puas-puasin selagi waktu kalian masih banyak. :)



Memang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan. Supaya kelak, kita tidak menyia-nyiakannya begitu saja ketika semuanya sudah kita genggam.


Semangat berjuang, para jobseeker



PS: 
Sedikit cerita, kalau saya masih belum kerja sampai saat ini bukan berarti saya belum diterima kerja di mana-mana. Sebelumnya, sudah ada 2 tempat yang menerima saya bekerja. Kenapa nggak saya ambil? Simpel, karena passion saya nggak di situ. Saya hanya "kebawa arus" daftar sana-sini biar cepet dapat kerjaan aja hehehe. Jangan ragu berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar kalian inginkan, yah! :)




Sunday, 19 April 2015

APA YANG BISA DILAKUKAN WAKTU?


Jadi, apa?
Apa yang bisa dilakukan oleh waktu? 


---


April 2015. Di sebuah tempat makan di pusat kota. Setelah berbulan-bulan tak jumpa. Sahabat saya, sebut saya Ayla, mahasiswi, berpacaran selama sekian tahun. Sambil meneguk segelas air mineral di genggamannya, ia mulai bercerita tentang rumitnya kisah kasih yang sedang ia jalani.

"...karena gue males kayak gitu mulu. Perasaan tahun ke tahun makin nggak jelas mau dibawa kemana hubungannya".

Dari 45 menit berlalu sejak Ayla mulai berbicara pada saya tentang masalahnya, saya hanya tak henti menghela nafas. Sambil sesekali meneguk segelas lemon tea yang saya pesan.



--



Saya sering tak habis pikir bagaimana bisa seorang lelaki dengan begitu teganya menyakiti perasaan wanita yang katanya ia sayang. Parahnya lagi, dilakukannya tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali.

Katanya sayang? Kok disakitin? Kok dibikin nangis terus?

Bukan, bukan saya mau menyalahkan lelaki sepenuhnya atas suatu masalah yang terjadi. Paling tidak, wanita juga ikut menyumbang sebab atas masalah tersebut. Tetapi pointnya adalah kadar pemaklumannya yang kurang.  

Sebagai manusia dewasa, kita nggak akan mungkin terlepas dari berbagai masalah kehidupan. Tak terkecuali dalam percintaan. Masalah itu akan terus dan terus datang silih berganti. Menguji kita akan seberapa tangguh kita dalam memperjuangkan hubungan yang dari awal sudah diniatkan untuk dimulai.

Pemakluman itu sangat penting menurutku. Tanpa adanya pemakluman, sebuah komitmen nggak akan bisa berlanjut lama. Memaklumi bahwa pasangan adalah orang yang 180 derajat berbeda dengan kita; berbeda karakternya, pemikirannya, dan berbeda kebiasaannya.

Beberapa hubungan memang harus "dipaksa" berakhir bukan karena sudah tak cinta, tapi karena keadaan yang memaksa mereka memutuskan demikian. Iya, bisa dibilang, kadar pemakluman yang kurang dalam menghadapi masalah bersama menjadi salah satu pemicu mengapa suatu perselisihan tak kunjung menemukan titik temunya.



---



Mendengarkan cerita sahabat saya tadi lantas membuat saya semakin yakin bahwa; kualitas hubungan memang tidak bisa diukur dari seberapa lama hubungan itu terjalin. Ya, beberapa orang memang berhasil mempertahankan hubungan yang mereka jalin sekian tahun dan mengkakhirinya di pelaminan. Sisanya? Gagal dan memilih mengakhirinya.

Hmm, waktu yang lama bersama tak jarang memang menimbulkan perasaan bosan diantara keduanya. Tapi, kalau hanya alasannya bosan lalu seenaknya juga mengabaikan pasangannya, dewasa nggak tuh? 

Sebegitu hebatnya waktu, sehebat itulah Tuhan membolak-balikan perasaan manusia. Hari itu kami bertemu untuk merayakan anniversary-nya yang ke 5, 6 bulan kemudian kami kembali bertemu untuk mengusap air matanya yang jatuh karena kandasnya cerita yang pernah ia bangun.


Thursday, 2 April 2015

Akhirnya Pakai Toga!


Sebetulnya ini latepost banget, tapi nggak apa-apa deh ya tetap di posting, nantinya tulisan ini yang akan menjadi remember saya jika suatu hari ingatan saya sudah mulai memudar. Jadi begini...

Alhamdulillah,
sekarang saya sudah resmi menjadi seorang sarjana. Tepat 7 Maret 2015 lalu, saya diwisuda di Kampus kebanggaan saya.
Cielaah, udah sah pakai title S.I.Kom di belakang nama hehehe.

Benar kata orang, euforia wisuda memang semeriah itu. Apalagi wisuda Strata-1 yang notabene-nya adalah wisuda tersakral bagi seorang mahasiswa, termasuk saya. Karena dengan itu, satu chapter dalam hidup telah berhasil dilewati. Yap, lulus dan menjadi seorang sarjana.

Dengan itu juga, berarti saya akan melewati babak baru berikutnya; mencari kerja. Iya, berkarir adalah satu diantara beberapa pilihan yang akhirnya saya letakkan di urutan nomor satu setelah menjadi sarjana.

Beberapa orang bilang ke saya kalau, "ah, perempuan mah tinggal nunggu dilamar aja, nggak perlu kerja terlalu berat". Kadang agak gimana gitu ya sama yang bilang seperti itu, tapi saya sih biasanya lebih milih senyumin aja, mau ngebahas soal begituan mah jadi panjang ujungnya, bener nggak? Ada yang sependapat? :D

Untuk pertanyaan, setelah wisuda mau apa kayaknya dijawab di postingan selanjutnya aja kali ya...
 
Yang jelas saya bahagia telah menyelesaikan studi saya. Ini semua untuk Ayah dan Ibu yang dengan sabar dan ikhlas memberikan curahan doa, kasih sayang, dukungan, dan materi yang nggak pernah putus. Terimakasih Ayah Ibu. Sehat-sehat terus ya sampai saya bisa buat kalian bangga, sesegera mungkin. Insha Allah. :))




Ayah dan Ibu. :)


 Akhirnya pakai toga!

Banyak yang bilang kalau kita mirip, mirip nggak?


Teman seperjuangan



Segini aja foto-fotonya, kebanyakan udah saya upload ke Instagram @araapratiwi. :) 



Salam,
Ara.

Wednesday, 1 April 2015

Menjadi Konsisten itu Sulit, tapi Bisa.


"Berhijab kan proses, suka-suka aku lah mau pakai terus atau nggak".
"Mau pakai atau nggak itu kan urusan aku, bukan urusanmu".

 
Jujur saja, belakangan ini saya makin prihatin kalau membaca atau mendengar langsung ada yang berkata demikian. Memang benar, berhijab itu sebuah proses, proses yang tidak sebentar. Tapi, alangkah baiknya tiap proses menuju kebaikan itu tidak diiringi dengan proses mendekati yang tidak baik lagi juga, kan?

Begini, saya pun masih jauh dari kata sempurna dalam berhijab. Tapi sejak saya memutuskan berhijab, Agustus 2013, saya juga punya prinsip; untuk tidak lepas-pakai lagi. Memang nggak mudah.. apalagi yang tadinya terbiasa memakai pakaian lengan pendek atau bahkan yang tanpa lengan tiap hari, lalu tiba-tiba harus menutup aurat hampir seluruh bagian tubuh.

Berhijab itu sebuah proses panjang dan saya setuju. Kenapa harus berproses? Karena bertransformasi menjadi lebih baik itu perlu waktu, pelan-pelan, namun pasti. Banyak yang bilang kan kalau "berhijab aja dulu, nanti hati dan perilakunya pasti ngikutin", yap, itu juga nggak salah.

Yang saya tidak sependapat adalah, ketika sudah berniat melangkah maju, tapi masih sering menoleh ke belakang.





Sedikit cerita tentang pengalaman saya memakai hijab, di awal-awal saya juga masih sering menggunakan baju ketat, transparan, atau yang berlengan 3/4. Saya tahu betul itu jauh dari kata sempurna. Tapi saya coba pelan-pelan menyamankan diri dengan 'aksesoris baru' yang saya pakai itu. Tetep lanjut walaupun suka kegerahan kalau cuaca sedang panas-panasnya. :)

(FYI aja, buat pemula, nggak perlu sampai tahap mencintai dulu deh, menyamankan diri aja dulu. Itu jauh lebih sulit sih.)

Dan... it's work, kok. Lama kelamaan saya menjadi nyaman dengan hijab yang menempel di kepala saya tiap hari. Udah nggak lagi ngerasa gerah berlebih ketika panas, gatel-gatel, risih dan sebagainya. Malah makin pede aja gitu makainya. Alhamdulillah. :))

Okay, balik lagi soal keprihatinan saya tadi.. Makin kesini makin sering lihat orang -termasuk beberapa teman dan saudara, yang masih suka lepas-pakai hijab seenaknya. Dan yang bikin makin sedih itu, mereka justru meng-upload foto tak berhijabnya di social media. Jadi sebetulnya saya yang kelewat kolot atau mereka yang kelewat nggak menghargai sebuah proses ya? 

Mau negur segan, nggak negur kok ya nggak sadar-sadar. Bikin gemes sendiri ya kan. Iya, saya termasuk orang yang kolot soal hijab. Pakai ya pakai, nggak ya nggak! Sesimpel itu sih pilihan menurut saya. Nah, yang nggak sesimpel itu soal konsistensinya. Konsisten buat terus siap menjalani panjangnya sebuah proses, apapun keadannya. 

Bagi saya, dan pasti banyak yang setuju juga kan, kalau untuk mendapatkan suatu tujuan, konsisten itu sebenar-benarnya kunci keberhasilan. Masih mau minta hadiah surga sama Allah kalau kitanya aja nggak ada usaha sama sekali? Nggak malu udah dikasih hidup, rejeki, dan rizki yang terus-menerus sama Allah? :)

Untuk terus konsisten memang sulit, saya paham kok. Belum lagi di saat awal-awal berhijab banyak godaan di depan mata; seperti model baju lengan pendek yang makin lucu-lucu, tawaran kerja yang syaratnya harus nggak berhijab, dan masih banyak lagi. Tapi saya cuma yakin aja sih waktu itu, kalau konsisten, Allah juga akan menggantinya dengan hal yang jauh lebih baik. :))

Dan benar saja, sedikit banyak hijab itu kini jadi semacam filter di hidup saya. Mendekatkan saya dengan banyak orang-orang baik, dan menjauhkan saya dari hal-hal yang memang tidak sepantasnya saya dekati. Kalau ada yang nggak sepaham sama tulisan saya, saya minta maaf ya. Saya bukan mau sok paling benar apalagi menggurui, ini cuma perkara pemikiran aja. Diterima apa nggak ya balik lagi ke prinsip masing-masing. :))






Jadi, masih mau mikir berapa kali lagi untuk mulai konsisten? :)


Salam,
Ara.

Thursday, 1 January 2015

Kaleidoskop 2014


Hello, 2015!
HAPPY NEW YEAR!

Sudah merencakan apa untuk tahun 2015? Sudah merayakan tahun baru dimana saja? Kalau saya sendiri dari tahun ke tahun memang tidak pernah merayakan tahun baruan. Jadi biasanya jam 12 malam disaat orang-orang sibuk dengan terompet dan kembang api-nya, saya dan keluarga malah sudah terlelap tidur. :D

Menyambut tahun baru kali ini saya hmm.. belum punya resolusi apapun. Bukan tidak punya keinginan, sih. Tapi lebih ke; nggak mau banyak berespektasi dan lebih memilih menunggu kejutan apa yang akan datang di 2015 yang masih 364 hari lagi.

Di 2014 Allah banyak sekali memberikan saya anugerah; lewat tawa dan air mata yang porsinya masih seimbang. Sisanya? Saya orang yang nggak pandai mengingat banyak hal, jadi saya rasa semuanya banyak yang berjalan di luar rencana tapi Alhamdulillah semuanya membahagiakan. :)

Lalu, apa saja yang sudah dilalui di 2014? 


Here we go...

Januari
1 Januari 2014, untuk pertama kalinya saya bertemu lagi dengan sahabat saya yang super baiknya sewaktu sekolah dibangku SMA. Panggil saja Upi. Karena kesibukan kami masing-masing, dan sempat lost concact lumayan lama juga.. Alhamdulillah kami bisa bertemu kembali. Dan lebih bahagianya lagi, kami merencakan short-trip tapi ala-ala kantong mahasiswa. Ya, kota Jogja pun jadi sasaran kami. Oh ya, akhirnya kami pergi berempat, dengan Mega dan Ana. Ketiganya sahabat-sahabat baik saya. 

Februari-Maret-April
Yang saya ingat dari 3 bulan itu cuma; mulai sibuk nyiapin proposal skripsi. Uniknya (menurut saya), di jurusan saya untuk sekedar mendapatkan 1 dosen pembimbing, setiap mahasiswa harus mengajukan proposal skripsi terlebih dulu. Mungkin hanya di jurusan saya yang sistemnya harus seribet demikian. Balik lagi soal proposal, dari yang bingung mau buat skripsi tentang apa, cari buku referensi kesana-kesini, sampai ngerasa sedih banget karena nggak di acc-acc terus proposalnya, padahal udah pengen konsultasi seperti teman-teman yang lain. Pengen marah-marah rasanya kalau inget hal itu, ngabisin banyak waktu.

Mei-Juni-Juli
Dan akhirnya saya mendapatkan dosen pembimbing untuk skripsi saya. Alhamdulillahnya lagi, dosbing saya adalah orang yang sabaaaarr.. jadi sedikit ngilangin bad-mood saya selama 3 bulan belakangan yang terombang-ambing nggak jelas nasip soal keberlanjutan skripsi saya ini. Di bulan-bulan itu saya sibuk dengan revisi; mulai membenahi skripsi saya yang sudah melewati proses konsultasi berkali-kali dengan dosen pembimbing. Capek? Pasti. Tapi perjalanan masih sangat panjang, jadi harus pinter-pinter menyemangati diri supaya nggak down sendiri.

Agustus
Setelah hampir vakum skripsi-an selama 1 bulan lamanya karena puasa dan libur Hari Raya, bulan Agustus lalu saya jalani dengan mulai memanajemen waktu untuk lebih rajin lagi konsultasi. Walaupun jenuh harus nunggu dosbing yang kadang nggak berangkat tiba-tiba padahal sudah janjian.. tapi, bukankah untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, akan ada yang harus diperjuangan, kan? Nggak terkecuali soal skripsi dan gelar. Pengen nyerah? Belum. Masih mencoba berdamai dengan keadaan.

September
September ceria; kata orang demikian. Tapi agaknya saya juga setuju dengan pernyataan tersebut. Buat saya, September adalah bulan yang penuh makna. Bulan di mana umur saya semakin bertambah di dunia, namun semakin berkurang pula jika ditakar dengan hitungan kematian. Suka parno sendiri kalau bahas soal jatah umur di dunia.

September adalah bulan perefleksian diri; menimbang-nimbang lagi apa yang selama setahun ini sudah benar saya lakukan, dan apa kesalahan setahun ini yang masih sering saya lakukan. Tidak ada perayaan istimewa di hari ulang tahun saya, tiap tahun selalu saya lewati dengan iringan doa dari kedua orang tua dan beberapa sahabat. Karena doa adalah cara mencintai yang paling tulus, dikelilingi orang-orang baik yang dengan ikhlas turut mendoakan hidup saya adalah sebuah anugerah. :)

Oktober-November-Desember
Mungkin, 3 bulan sebagai penutup tahun 2014 itu adalah bulan-bulan terberat bagi saya. Kalau dihiperbola-kan, sepertinya ujian silih berganti datang, rasanya kesabaran saya benar-benar sedang diuji. Pengen ngeluh? Pasti. Tapi saya tahan-tahan. Prinsip saya, jangan memperburuk keadaan dengan memperbanyak keluhan! It's work sih buat saya. Setidaknya saya bisa meminimalisir keluhan-keluhan saya, terutama mengeluh di media sosial.

Balik lagi mengenai ujian hidup, dateline skripsi yang harus segera terselesaikan diakhir tahun ini adalah sebenar-benarnya tantangan besar bagi saya. Belum lagi tiap konsultasi revisi langsung seabrek gitu banyaknya, sekalinya udah niat banget mau konsultasi, dosbing nggak datang ngampus. KESEL BANGET KAN, BIKIN PENGEN MEWEK KEJER KAN.

Okay then. Di bulan-bulan itu saya juga harus mengalami kehilangan. Kehilangan memang bukan perkara mudah. Apapun bentuknya. Nangis, nggak? Nangislah. Enam tahun ada yang saya perjuangkan dalam hidup saya, inget gimana susah-payahnya menjaga dan mempertahankan, gimana kesabaran kami diuji ketika hubungan kami harus dijalani dengan jarak jauh, dan perasaan-perasaan lain yang susah banget buat dijelasin.

Tapi bukankah Allah sudah bekali kita dengan kekuatan? Sehingga, dengan atau tanpa (mereka), kita adalah kita. Kita yang tegar, tangguh, dan sabar. Bukan pilihan yang cukup mudah untuk memutuskan berpisah dengan orang yang sudah menemani saya bertahun-tahun; bahkan sulit. Tapi banyak hal yang saya peroleh dari proses adaptasi setelah kehilangan yang saya alami. Saya semakin mengenali diri saya sendiri. Saya menjadi lebih tahu apa yang sebetulnya saya butuhkan ketimbang yang saya inginkan.

Jangan gantungan sepenuhnya kehabagiaan dan semangat kita kepada orang lain. Karena pada akhirnya, kita adalah satu-satunya orang yang bertanggungjawab penuh atas diri kita sendiri. Iya, yang saya tahu ternyata saya tidak selemah itu. Rasa sedih karena kehilangan nantinya akan berangsur-angsur hilang seiring berjalannya waktu. Akan selalu ada kekuatan untuk membangun daratan yang tersapu bersih oleh badai, bukan? :) 



Source: Feni



Dan, akhirnya saya tutup tahun 2014 ini dengan banyak hal yang pantas untuk disyukuri; with a lots of experience, laugh, love, sadness, and journeys.

WELCOME 2015!

Mari kita torehkan sebaik-baiknya tinta di tahun ini. Terimakasih atas pelajaran-pelajaran berharganya di 2014. :)



Salam,
Ara.

Saturday, 15 November 2014

Hujan Bulan November



Aku pernah mengelukanmu sampai aku lupa atas diriku sendiri,
aku pernah mencintaimu sampai aku lupa untuk mengenal diriku sendiri,
aku pernah memedulikanmu sampai aku menelantarkan hatiku sendiri.
Sebab yang kutahu hanya kamu,
sebab aku tidak punya banyak cara mengenal yang lain dan kamu memenjarakanku,
sebab aku tidak pernah menuntut untuk diperlakukan dengan baik hingga kamu merasa tidak perlu menjaga dan merawatku.

Aku tumbuh tanpa empati tapi aku tetap cinta kamu, dulu.
Aku berlaku hormat sebab kamu pasanganku,
bukan karena aku masih merasa mau.
Sebab waktu tidak memberikanku pilihan lain,
kecuali menunggu akhir yang pernah aku mulai
tanpa berpikir namun penuh dengan cinta yang seharusnya
menjadi penawar sisa-sisa sakit yang yang kamu jadikan senjata untuk membunuhku.

Bahwa kini mencintaimu adalah sia-sia,
karena yang kau ingin hanyalah sempurna.
Bukan aku, dengan segalanya yang biasa saja.
Bahwa demi kamu, aku dengan yakin mengabaikan yang lainnya.
Tapi tetap itu bukan yang sempurna,
masih sekepal bagianku yang kosong yang bahkan tak bisa kau isi.
Bahwa kini aku kehilangan segalanya,
demi kesempurnaan di matamu.
Demi bahagia yang selalu aku coba hidangkan di hadapanmu.
Bahwa yang sempurna hanya kau dan egomu.



Source: google.com


Hujan Bulan November ini begitu deras,
tapi jauh lebih deras lagi ego yang mengaliri tiap sudut ruang hatimu,
Aku bertekuk kalah,
memang bukan aku yang kau mau.

Curhat Massal


Beberapa waktu terakhir ini saya mulai merasa terganggu ketika melihat recent update di BBM saya. Ya, saya merasa terganggu ketika tiap kali mengecek update, dan lagi-lagi orang yang sama terus-terusan mengganti display picture mereka. Atau yang mengganti personal message tiap menit. Annoying! Antara pengen ngedelcont tapi kenal, tapi kalau nggak didelcont bikin males.

Beberapa teman di kontak BBM saya memang agaknya terlalu ekspresif dalam menggunakan fitur dalam aplikasi yang mereka miliki. Awalnya, saya berpikiran bahwa orang yang tiap saat meng-update status di situs jejaring sosial adalah orang paling annoying, namun setelah melihat fenomena pada recent update BBM ini, ternyata penilaian saya berubah.. merekalah yang lebih menyebalkan.

Saya juga tidak memungkiri, bahwa sesekali saya juga mengganti PM dan DP pada aplikasi BBM saya. Namun sampai saat ini saya masih gagal paham dengan motivasi mereka bertindak demikian. Untuk menunjukkan eksistensi dirinyakah? Cari perhatiankah? Cari simpati orangkah?
Tapi agaknya penempatan eksistensi diri mereka yang kurang tepat menurut saya. Atau mereka kurang memahami apa fungsi dari diciptakannya jejaring sosial. Disitu ada Facebook atau Twitter. Twitter sangat mendukung sekali untuk yang suka update tiap saat, karna refresh feed-nya per second atau satu detik sekali diperbarui. Jadi nggak masalah kalau mau sering-sering update, karna akan tertutup dengan cepat dari tweet-tweet yang lain.

Untuk sekedar update yang memang yaaa.. bisa ditolerir seperti "baterai hampir habis, hub via sms", "tempat ini sangat indah", "Alhamdulillah semua lancar", dan lain-lain yang dalam batas sewajarnya menurut saya itu cukup tidak menggangu. Tapi gimana sama yang tiap update isinya cuma keluhan? Atau beberapa curhatan hati yang semestinya tidak perlu juga dishare di media seperti itu?



--



Sebut saja A. Perempuan muda seusia saya, sudah menikah namun belum bekerja (lagi). Hampir tiap saat ia meng-update PM dan DP BBMnya. Bahkan saat bertengkar dengan suaminya dan segala uneg-unegnya kepada si suami ia tuliskan disitu. Kebanyakan dari update-annya berisi keluhan, tentang rumah tangga dan segala perasaan dalam hatinya.

Lalu si B. Laki-laki sekitar 1 tahun lebih tua dari saya. Sudah menikah. Hampir sama dengan si perempuan tadi, lelaki inipun tidak ada jedanya meng-update kolom PM maupun DPnya. Namun isi dari PM nya lebih tidak penting lagi, seperti hanya tertawa ketika ia menyaksikan sesuatu atau sekedar mengejek/mengomentari temannya.

Ada lagi si C. Perempuan, usianya sama dengan saya dan masih kuliah. Ia selalu mengganti foto DP nya yang juga bisa dibilang sering. Dan yang membuat prihatin adalah, dia memasang foto saat ia tidak mengenakan hijabnya, padahal semua orang tahu bahwa ia mengenakan hijab. Soal update PM, perempuan ini juga cukup ekspresif. Namun tidak terlalu sering seperti si A dan B.




Lalu, kesimpulan apa yang saya dapat?
Saya berpikir bahwa PM di BBM dibuat untuk mendeskripsikan kondisi kita pada saat-saat tertentu. Dalam artian, PM ini diperuntukkan untuk memberitahu bahwa kita sedang dalam rapat, sedang dalam perjalanan, baterai hampir habis, pulsa habis, sedang sakit dan tidak menginginkan diganggu, dan kondisi-kondisi lain yang sifatnya penting untuk orang lain ketahui.

Untuk update yang bisa dibilang nggak penting seperti suasana hati, utamanya keluhan, tidak semestinya dipaparkan dalam personal message BBM seperti itu. Ada banyak media untuk berdoa, bersyukur, maupun berkeluh kesah. Mungkin saya tipe orang yang tidak bisa mentolerir point yang ketiga. Berdoa dan bersyukur biasanya erat kaitannya dengan hal baik dan menggembirakan. Yang pastinya akan enak dibaca oleh semua orang. Lain halnya dengan berkeluh kesah. Keluhan adalah salah satu tanda bahwa kita sedang menghadapi hal yang kita anggap berat atau sulit. Tapi bukankah sebaik-baiknya berkeluh kesah adalah dengan berbagi dengan orang terdekat? Atau dengan mengkomunikasikan masalah itu melalui doa, kepada yang memberikan cobaan...

Terkadang kita lupa, bahkan sering lupa.. bahwa ada banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kita hari ini. Di luar sana ada banyak orang yang berdoa menginginkan supaya ada di posisi kamu sekarang. Dan di luar sana ada banyak orang yang masalahnya jauh lebih berat dan lebih sulit. Hanya saja, mereka tidak mengeluh. Mereka tidak mengumbar kesedihan dan kegundahan hati mereka seperti yang biasanya kita lakukan. Mereka menyimpannya rapat-rapat, lalu meminta kepada Tuhannya agar diberikan kemudahan, agar ditunjukkan sebaik-baiknya jalan keluar.




---



Saya banyak belajar bersyukur dari orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung saya hari ini. Orang-orang yang kebanyakan saya temui secara tidak sengaja. Orang-orang yang menyadarkan saya bahwa peribahasa di atas langit masih ada langit memang benar adanya. Ada banyak yang lebih pedih masalahnya, lebih susah hidupnya, lebih banyak air mata yang tertumpah.. hanya saja mereka tidak pernah mengeluh di depan orang lain.

Karena bagi saya juga, sebaik-baiknya menyebarkan kabar adalah kabar bahagia. Ya, karena sesimpel bahagia itu menular, dan saya percaya, it's work! Maka dari itu, saya lebih suka mengupdate perasaan bahagia dan rasa syukur saya ketimbang perasaan sedih dan gundah gulana yang saya rasakan. Karena sungguh, tiap kali kamu berkeluh kesah di media sosial sebagai yang 'paling tersakiti' atau 'paling menderita', bukan menjadikan orang lain simpati terhadap keadaanmu. Satu-dua kali mungkin iya, tapi ketika itu kamu lakukan berkali-kali, justru membuat orang lain 'risih' membacanya.



Source: Google.com



Jadi, pergunakanlah fitur aplikasi seefisien mungkin. Mengerti waktu, keadaan, dan kegunaan secara tepat sehingga tidak menggangu orang lain di sekitarmu. Be a smart user! :) 



Salam,
Ara.

Perpisahan itu..


Salah satu persoalan yang cukup rumit dalam perjalanan menuju dewasa adalah sebuah perpisahan. Perpisahan adalah sebuah proses; dimana sebuah perpisahan tak berhenti sampai 'ditinggal' atau 'meninggalkan. Perpisahan selalu menyisakan kehilangan. Ada sebuah fase transisi dimana kita harus membiasakan diri menjalani hari tanpa hadirnya yang sebelumnya terbiasa kita rasakan.

Saat semua terancang dengan sempurna, saat perhatian-perhatian kecil itu menjelma menjadi candu rindu yang menancapkan getar-getar bahagia. Tapi, bukankah prediksi manusia selalu terbatas? Aku tidak bisa terus menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Perpisahan itu harus terjadi untuk pertemuan awal yang pasti akan memunculkan perasaan bahagia itu lagi.



".. dan terlepaslah seperti seharusnya dari awal ku biarkan kau terbebas -mencari nyaman yang kau mau."



Kalimat itu pernah aku tuliskan; beberapa bulan lalu. Dan seharusnya itu menjadi tulisan yang terakhir, tidak perlu aku menulisnya berulang kali. Tapi sekali lagi, manusia hanyalah perencana. Aku pernah bertekad bulat untuk berpisah, tapi ternyata Tuhan menginginkan aku untuk mencobanya sekali lagi, bahkan beberapa kali lagi. 



Dan, barangkali ini sudah saatnya...

Tidak dipungkiri dan tak harus menyangkal geliat hati, bahwa selama rentan waktu tanpamu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Ketika pagi, kau menyapaku dengan lembutnya. Ketika siang, kau sekedar mengingatkanku untuk tidak terlambat makan. Ketika sore, kau menyapaku lagi, bercerita tentang hari-harimu, lelahmu dan bahagiamu pada hari itu. Ketika malam, kau menjerat pikiranku untuk berfokus pada suaramu yang mengalun lembut dari lempengan-lempengan dingin handphoneku. Dan aku rindu, rindu semua hal yang biasa kita lalui lingga waktu berlari begitu cepat.

Dan, akhirnya perpisahan itu tiba. Sesuatu yang selalu kita benci kedatangannya tapi harus kita lewati tanpa tahu kapan itu akan terjadi. Dengan segala ketidakpastian yang menggelayutiku, aku harus melepaskanmu. Kau temukan jalanmu, aku temukan jalanku. Kita bahagia pada jalan kita masing-masing. Kamu berpegang pada prinsipmu, aku berpegang pada perasaanku. Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan.

Semua berjalan dengan cepat. Sapa manjamu, tawa renyahmu, cerita lucumu, dan segala hal yang membuat otakku penuh karenamu. Dan semua itu perlahan harus kuhapus dari memori otakku agar kamu tak lagi mengendap-endap masuk ke dalam hatiku, lalu membuat kenangan itu menjadi nyata dan kembali menjadi realita. Mari mengikhlaskan.. setelah ini akan ada pertemuan yang lebih menggetarkan hatimu dan hatiku. Akan ada seseorang yang masuk ke dalam hidupmu dan hidupku. Dia akan menjadi alasan terbesar ketika doa terucap, lalu aku dan kamu akan menyisipkan namanya.

Percayalah, bahwa perpisahan ini untuk membaikkan hidupmu dan hidupku, bahwa setelah perpisahan ini akan ada rasa bahagia yang bertubi-tubi yang mengecupmu dengan seringnya. Percayalah, bahwa pertemuan kita tidak sia-sia. Aku banyak belajar darimu dan aku berharap kamu juga mengambil banyak pelajaran dari pertemuan kita yang tidak bisa dibilang singkat ini. Semua butuh proses dan waktu saat kamu kehilangan sesuatu yang terbiasa kau rasakan.


Selamat menemukan jalanmu, baik-baik ya. :)