Thursday, 27 February 2014

Jika

Hari Ke-27

Kepada kamu,
surat ini masih tentang kamu, hey, si (calon) bangku kanan.
Jika suatu hari nanti, kulitku tak lagi kencang, mataku menjadi sayu dan memburam,
masihkah kamu tetap bersamaku?

Jika suatu hari nanti, nanti ingatanku memudar, aku tak lagi dapat mengingat cerita indah kita,
bersediakah kamu untuk sabar menceritakan semua untukku?

Jika suatu hari nanti, tanganku tak lagi kuat untuk memeluk dan terlalu lemah untuk berdiri,
maukah kamu tetap menuntunku?

Jika suatu hari nanti, rambutku mulai memutih dan aku mulai mengeluhkan sendiku yang sakit,
masihkah kamu tetap tinggal untuk membantuku?

Jika suatu hari nanti, aku tak dapat lagi menyanyikan lagu yang biasa kita nyanyikan saat muda,
tak bosankah kamu untuk menyanyikannya kembali buatku?

Jika suatu hari nanti, aku tak bisa lagi memanjakan lidahmu dengan masakanku,
apakah aku masih menjadi tempatmu kembali pulang?

Jika suatu hari nanti, syarafku sudah tak memungkinkan untukku berdandan,
apakah kamu tetap selalu berkata bahwa aku masih cantik setiap hari?

Jika suatu hari nanti, aku harus mulai menggunakan alat bantu untuk berjalan,
apakah senyumanmu masih tetap sama ketika aku masih memakai sepatu flat shoes kesayanganku?

Jika suatu hari nanti, tulangku mulai melemah dan aku mulai susah melangkah,
apakah tanganmu masih menggenggam erat tanganku seperti saat aku menggunakan high heels saat menuruni tangga?

JIka suatu hari nanti, ingatanku memudar dan mulai kebingungan mencari barang,
akankah kamu tetap sabar sama seperti saat kamu mengingatkanku selalu membawa cukup bekal ketika aku akan bepergian?
Jika suatu hari nanti, separuh memoriku mulai hilang karena penuaan, dan aku mulai sering marah-marah karena lelah akan keadaanku,
disitukah kamu untuk tetap sabar menghadapiku persis sama seperti kala aku sedang terkena mood swing PMS?

Jika suatu hari nanti, aku menyerah dengan keadaanku dan memintamu untuk pergi meninggalkanku,
masihkah ada kamu dengan segenap janji yang kamu ucapkan saat muda,
bahwa kamu akan selalu ada?

Wednesday, 26 February 2014

Kilometer

Hari Ke-26

Kepada kamu,
yang kucintai dari jauh.

Sayang, sebenarnya tak sengaja kutulis surat ini. Ketika menunggu dering ponselku dan berharap itu kamu. Berulang kali kulirik putaran waktu, berharap kau sudah tiba di rumahku. Namun nampaknya harus kukubur dalam-dalam keinginanku akan sosokmu di sini. Ada puluhan kilometer yang menjeda di antara kita.

Sayang, selalu ku coba memberimu ruang sendiri. Berbagi dengan duniamu yang tak kukenali. Eh, ralat. Bukan 'tak', melainkan 'belum'. Mungkin suatu waktu nanti, kau akan membawaku dengan perasaan bangga ke dalam duniamu yang belum kutau itu.

Sayang, satu jam lalu sengaja kukirim pesan singkat ke nomor ponselmu. Menggantung. Diam. Tertunda. Kuurungkan untuk mengirim pesan kedua, pun ketiga. Sengaja kuberi kau ruang di luar sana. Aku masih diam, dalam risau yang coba kupendam. 

Sayang, sebenarnya aku hanya tak ingin mengganggu waktumu. Ketika kau berjibaku dengan sekelumit aktivitasmu. Meski sering kau bilang tak terganggu dan bisa kurasakan tulusnya setiap perhatian yang kau lontarkan. Perasaanku saja yang kadang bersikukuh dengan pendapatku.

Sayang, kurasa kau pun telah terbiasa tanpa aku di sana. Bukan karena aku tak mau menemanimu. Semua karena keadaan.. keadaan yang mana memaksa kita berada tidak di tempat yang sama. Mungkin sekarang, akan lebih baik bila tanpa aku yang menemani setiap gerik yang kau lakukan. Tapi sungguh, di sini pikiranku tak lepas darimu.

Sayang, ketika kau terima surat ini, mungkin hari sudah berganti. Mungkin aku sudah tersenyum kembali. Kau tau, tidak? Tiap pesan yang kau kirim itu selalu pandai membuatku menyimpulkan senyum setiap hari. Kau selalu punya cara membuat wajahku ceria, secerah jingga di timur cakrawala.


kuteringat dalam lamunan,
rasa sentuhan jemari tanganmu
kuteringat walau t'lah pudar
suara tawamu, sungguh kurindu

tanpamu, langit tak berbintang
tanpamu, hampa yang kurasa
seandainya jarak tiada berarti
akan kuarungi ruang dan waktu
dalam sekejap saja
seandainya sang waktu dapat mengerti
takkan ada rindu yang trus menggangu
kau akan kembali bersamaku..

terbit dan tenggelamnya mentari
membawamu lebih dekat
denganmu, langitku berbintang
denganmu, sempurna kurasa..
(LDR - Raisa)



Untuk Aa:
LDR itu penuh kenangan. Karena kamu akan merindukan setiap jengkal yang akan membawamu mendekatinya. :)

Tuesday, 25 February 2014

Hallo, Mega!

Hari Ke-25

Selamat petang,
Mega tersayang!

Sedari pagi kuleburkan diriku dengan pekerjaan yang lumayan membutuhkan relaksasi isi kepala. Beberapa senandung sendu Raisa pun tak cukup meringankan beban kepalaku. Entah, rasa lelah ini belum mau enyah begitu saja dari sepertinya.

Kebetulan hari ini adalah tema surat untuk salah satu peserta. Tak perlu waktu lama untukku memutar otak untuk siapa surat ke-25 ini kelak kutujukan. Lalu, ingatan ini membawaku ke arahmu, memberikan jawaban sederhana; namamu berputar dalam kepala. Benar saja. Aku menulis surat ini untukmu, setelah 24 hari sosokmu terlewatkan dalam list orang yang akan kukirimi surat.

Mega. Lelah juga ternyata terus-terusan menulis berdasarkan dan diperuntukkan untuk hal yang tabu. Hal yang tak bisa aku gapai. Hal yang bahkan aku sendiri belum pernah merasakannya. Maka dari itu, setidaknya, aku butuh satu figur nyata untuk aku tuliskan. Seperti dirimu.

Mega. Sudah lama kita tak berbincang, ya. Pun sekedar bertukar pandangan, tentang apa saja; hobby, travelling, fashion, ceritaku, ceritamu, apa saja. Lama rasanya kita tak berkicau tentang ini dan itu. Cukup lama, satu bulan? Dua bulan? Ah, sudah berbulan-bulan rasanya, ya. Tanpa sadar kita tenggelam dalam kesibukan tanpa padam hingga mengantarkan lelah pada malam yang merangkak larut. Syukurnya, aku tak menemukan jeda di antara kita.

Ah, ya, bagaimana kabar tugas akhirmu? Sudah berapa bab yang terlahir dari pemikiran dan ketikan jemari lincahmu? Aku tak sabar mendengar kabar bahagiamu. Pasti akan menjadi kabar bahagia pula untukku. Do'akan ya, agar aku cepat menyusulmu, merampungkan kewajibanku sebagai seorang anak; mempersembahkan gelar kebanggaan untuk kedua orangtua tercinta.

Mega. Coba diingat.. kalau tidak salah, seharusnya tahun ini tahun kelima kita bersahabat. Namun rupanya semesta baru berbaik hati mempertemukan kita beberapa bulan belakangan. Ah, ya sudahlah, yang penting sekarang kita sahabat. Aku sedang membayangkan cara kita berbincang saat kita bertemu di waktu depan. Akankah menjadi perbincangan semalam suntuk dan seharian? Akankah kekalnya mengalahkan perbincangan malam dengan sang bulan? Akankah perbicangan kita menyerupai jumlah dedaunan yang luruh di musim gugur? Akankah seriuh suara deburan ombak di laut lepas? Entahlah, yang pasti itu adalah satu saat yang paling kutunggu.

Mega. Maafkan kalau suratku ini terlalu lugas. Di depanku, rentetan gagasan merengek minta dituntaskan. Senja pelan-pelan lingsir ke belahan langit barat. Hari ini aku hanya ingin cepat beristirahat. Maka, biarkan aku merampungkan mereka sebelum matahari tenggelam. Setelah kau baca surat ini, mari lanjutkan perbincangan kita di ruang lainnya. Sampai jumpa, Mega! 



Salam rindu,
aku yang tak sabar berbincang banyak hal padamu.