Hari Ke-6
Kepada kamu,
yang akan tau bahwa surat ini kutujukan untukmu.
Anggap saja, kini aku tak bisa menemukan keberanian lagi dari suara dan tatap muka, tapi hanya dari tulisan.
Mungkin
saja waktu dan jarak yang mengiringi kedekatan kita tak sadar
jika telah membentang lautan dan kekacauan di antara kita. Hingga
masing-masing dari kita tidak mau mengenal satu sama lain lagi.
Ketakutan? Pasti. Rasa takut itu akhirnya menyusup dan mengendap-endap memaksa masuk ke dalam diri. Seperti mengetahui kekalahan jauh sebelum waktunya tiba. Tentang bagaimana tangan yang selalu ku genggam, menjadi tidak seerat seperti biasanya. Dekap yang selalu ku peluk, kini tak sehangat seperti dulu. Tentang bagaimana kita perlahan-lahan saling memunggungi dan berjalan ke arah yang berbeda.
---
Ragu (di awal mula) itu selalu ada. Ragu kamu akan bertahan dengan semua kekurangan dan semua masalah hidupku. Namun kau kuatkan aku dengan mimpi dan harapan di masa datang; kala itu. Dengan diiringi sebait doa dan keyakinan bahwa tanganmu lah yang akan meluruskan semua. Tapi memang nampaknya sudah terlalu di ujung sebelum kita sadar untuk berbalik kembali; kamu memutuskan untuk menyudahi.
Jadi baiknya biarlah cerita ini diakhiri dengan segala kekecewaan yang tak kalah memuncahnya. Dengan luka lebam yang akan aku sembuhkan sendiri. Biarlah beban itu ada dibagianku, dan terlepaslah seperti seharusnya dari awal ku biarkan kau terbebas -mencari nyaman yang kau mau. Dalam sujudku, mengaung namamu berserta sesurat maaf yang baiknya kuucapkan langsung di depanmu.
Di tepi matamu seolah ku lihat bayangan kita yang semakin pudar perlahan-lahan. Semoga nanti akan ada tempat lain bagimu untuk berteduh.
Dari aku,
orang yang katamu kau kasihi namun lupa untuk kau perjuangkan.
No comments:
Post a Comment